• Senin, 22 Oktober 2018
  • LOGIN
Garam di Laut Asam di Gunung, Ketemu di Kandang Sapi

Garam di Laut Asam di Gunung, Ketemu di Kandang Sapi

Infogunungkidul, NGLIPAR, Senen Kliwon – Harga garam dapur membubung, naik 100% lebih. Tidak seperti kalau harga beras naik. Ibu rumah tangga adem ayem. Namun demikian, ada juga yang harus menjerit, yakni peternak sapi.

“Kalau saya cuma heran saja, harga garam kok ‘nyela-nyela’, seperti iri dengan harga sembako yang lain,” ucap Dukuh Klayar, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, 24/7/17.

Harga garam lokal menurutnya semula Rp 2.500,00 naik menjadi Rp 5.000,00. Sementara garam impor lebih ekstrem, dari harga Rp 3.000,00 melambung ke angka Rp 8.000,00.

Negeri ini, menurut Ki Lebak Pleret, demikian nama panggilan akrab Dukuh Klayar, adalah negeri kelautan atau maritim. Sampai terjadi langka garam, menurutnya terasa lucu.

“Madura pulau yang beken sebagai penghasil garam, apa para petani berhenti memproduksi bumbu masak,” tanya dia setengah berkelakar.

Ibu rumah tangga, terkait kenaikan harga garam, menurut dukuh Klayar tenang-tenang saja. Uang Rp 8.000,00  bisa awet hingga sebulan.

Yang menjerit, lanjut Pak Dukuh, adalah peternak sapi. Garam satu pak/ bungkus hanya cukup 2 hari saja untuk campuran pakan/ ngombor lembu.

Reporter: Maretha


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE