• Selasa, 25 September 2018
  • LOGIN
Berburu Hutan Rimbun, 3 Kali Kawin Cerai

Berburu Hutan Rimbun, 3 Kali Kawin Cerai

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Bila menikah bukan atas dasar cinta dan menuruti Sunnah Rasul, ya seperti Komo 38, ini. KUA sebagai lembaga perkawinan yang suci diacak-acak seenak wudele dewe dengan alasan yang tak masuk akal. Begitu mudahnya dia ceraikan istri-istrinya, hanya karena tak ada “hutan belantara” di daerah kewanitaannya. Maka tiga kali kawin, tiga kali pula dia bercerai. Hingga sekarang Komo terus mencari, tapi dapatnya gundul melulu, yang kata dukun sih bawa sial.

Cinta itu pada dasarnya mau berkorban, dan nrimo apa anane dari diri orang yang dicintai. Biar pasangannya lemu impleg-impleg kaya Limbuk ataupun kurus kering mirip Cangik, karena kadung cinta tetap dijadikan istri hingga tua. Beda dengan perkawinan yang latar belakangnya hawa nafsu, ketika kendaraan itu ditumpaki wis kerasa ora pati kepenak, buru-buru dibawa ke show room untuk tukar tambah.

Ternyata Komo warga Gunungkidul yang berbatasan dengan Bantul ini termasuk lelaki yang suka main-main dengan KUA, lembaga perkawinan yang sakral. Baginya menikah hanya sekedar mencari legalitas untuk hubungan intim. Jika tak tercapai kepuasan urusan bawah perut itu, langsung saja diceraikan dan berfikir mencari bini baru sebagai pengganti yang lebih temanja dan sexy.

Agaknya Si Komo memang sosok lelaki yang punya kelainan. Dia sangat mendambakan bini yang tak sekedar cantik luarnya saja, tapi sampai dalam-dalamnya sekalian. Dia ingin istri yang memiliki “hutan belantara” atau alas gung liwang-liwung yang banyak tumo, coro, macan bahkan babi hutannya sekalian. Itu sudah menjadi harga mati, karena memang begitulah khayalan fantasi seksualnya.

Tapi rupanya Allah SWT hendak melehke (mempermalukan) Komo yang tak mau nrimo ing pandum. Maka ketika menikah pertama kali dengan Wanti tahun 2005, dia langsung dibikin kecewa berat ketika di malam pertama menemukan milik istrinya gundul mulus macam hutan korban illegal loging. Hanya 6 bulan dia menikahi, Wanti dan langsung dicerai. Alasannya macem-macem, yang gundul lah itunya, yang ababe (bau mulut) mambu pete, keringatnya bau sengak dan segudang alasan sak ketemune.

Tahun 2007 Komo kembali kawin lagi dengan gadis Warni. Sesuai namanya, Warni memang cantik jelita berbodi semlohai. Tapi sayang, eeh, lagi-lagi ketemu yang gundul seperti ban mobil yang bertahun-tahun tak pernah diganti. Cepak mirip kepala tentara lepas pendidikan militer. Dia mencoba menerima nasib dengan mencari solusi, misalnya menggunakan ramuan “si raja brewok”. Tapi karena bukan tempatnya, usaha itu gagal total. Mestinya dioles bawah hidung atau janggut kok diolesin kesitu, ya nggak tumbuh. Tak mau ambil pusing, tahun 2010 Warni didepak dengan talak PA Wonosari.

Tahun 2014 setelah sekian lama menduda, Komo mendapatkan jodohnya kembali. Dia sudah antipati dengan wanita berawalan huruf W, maka sekarang ganti yang huruf M. Tapi ketika paket belah duren itu dibuka tengah malam, yaaah…… ternyata Menik gundul lagi. Pusing tujuh keliling kepala Komo sampai harus garuk-garuk kepala segala.

Kalau hutan, pastilah ada pihak yang terlibat illegal loging. Tapi karena ini bukan hutan, harus menyalahkan siapa ? Apalagi si Menik inikan masih perawan ting ting, wong baru saja lulus SMK kok saat dinikahi di depan Pak Penghulu.

Tiga tahun selalu bergundul ria, menjadikan Komo jenuh dan jeleh juga, sehingga Menik pun didaftarkan ke Pengadilan Agama Wonosari untuk dipegat. Tekadnya besar, dia musti cari yang berewokan sampai dapat.

Ketika Majelis Hakim menanyakan alasan cerai yang ketiga ini, hakim pun dibuat kaget atas alasan Komo menceraikan istrinya. Tapi meski sudah dinasihati panjang kali lebar kali tinggi, dia tetap ngotot melotot untuk membebaskan Menik dari ikatan rumah tangganya. Di luar sidang dia mengaku, kata dukun guru spiritualnya yang kerap diajak konsultasi, jika kehidupan Komo selama ini banyak sialnya, itu adalah dampak dari istri yang tak memiliki hutan tropis maupun mangrove.

“Jadi ngedroplah ini adik kesayanganku, karena kesannya seperti kencan sama balita,” Kata Komo sok blaka.

Tanya dong ke Kantor Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, bagaimana caranya reboisasi yang baik dan benar itu. 

Penulis: Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE