• Senin, 22 Oktober 2018
  • LOGIN
Batik Amarilis: Siapa Sesungguhnya Yang Mengeruk Keuntungan?

Batik Amarilis: Siapa Sesungguhnya Yang Mengeruk Keuntungan?

Infogunungkidul, PATUK, Jumat Legi  - Bunga amarilis mekar setahun sekali, umurnya tidak lebih dari seminggu. Gencarnya promosi di sosmed, amarilis sempat bikin heboh. Camat Patuk  tergoda, amarilis dijadikan motif batik. Ketika batik amarilis gagasan Camat terealisasi, siapa sesungguhnya yang menangguk untung. Penguasa, pengusaha, atau rakyat?

“Yang pasti, masyarakat Patuk hanya menjadi penonton. Tidak ada segelintir warga pun yang memperoleh manfaat ekonomi,” demikian komentar Bambang Krisnadi, anggota DPRD DIY, (4/8/).

Menurut politisi PDIP yang tak segan bersuara lantang ini, menautkan bunga amarilis ke dalam kain batik merupakan gagasan dangkal, tidak cerdas, eksklusif, pejabat ingin cari perhatian.

 “Berkali-kali saya kritik, Patuk itu adalah gerbang utama masuk ke Gunungkidul. Masyarakat memperoleh apa? Hanya debu alias bleduk kendaraan yang hilir mudik,” ulasnya pedas.

Belakangan dipamerkan batik amarilis. Menurut Bambang Kris, yang mendulang duit adalah pengusaha, dengan catatan jika batik tersebut laku.

Dia menggambarkan, berbeda dengan misalnya warga Patuk digerakkan membuat batik tulis. Ini peluang usaha yang membuat perekonomian merangkak.

Bambang Krisnadi meragukan upaya yang ditempuh Camat Patuk R. Haryo Ambar Suwardi tentang batik printing motif amarilis yang dipamerkan di medsos beberapa saat lalu.

Agung Sedayu


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE