• Senin, 20 November 2017
  • LOGIN
  • Berlangganan Berita Terbaru invite BBM D919C28D/ DAEC06F2/ WA. 081904213283. Infogunungkidul, menerima tulisan/ berita opini dari pembaca sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik, tidak mengandung unsur sentimen SARA dan Provokatif terhadap kelompok tertentu. Kirimkan opini ke email: redaksi@infogunungkidul.com - "HYPNO THERAPY" Mengobati berbagai macam penyakit. Buka praktek hari: Rabu & Sabtu Jam: 08.00-16.00 Alamat praktek: Jl. Kyai Legi Kepek Wonosari Gunungkidul. Konsultasi & Pendaftaran hub. Lucy 08997722517.

Berita Terbaru
Tekan Nikah Usia Dini, Raih Penghargaan Top 99 Dari Kemen PAN-RB

Tekan Nikah Usia Dini, Raih Penghargaan Top 99 Dari Kemen PAN-RB

Infogunungkidul, GEDANGSARI, Minggu KliwonTingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Gunungkidul membuat banyak fihak mengelus dada, tertinggi se DI Yogyakarta. Namun upaya untuk menekan tingginya angka tersebut patut di acungi jempol. Pasalnya belum lama ini Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, S.Sos mendapatkan apresiasi  karena masuk Top 99 dari Kementerian Pendayaguanaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB) RI terkait dengan  program inovasi penundaan pernikahan usia dini.

Minggu kemarin Hj. Badingah bersama drg. Diah Mayun. Kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Puskesmas Gedangsari II terbang ke Jakarta dalam rangka untuk memaparkan sekaligus menerima penghargaan terkait  program inovasi tersebut.

drg. Diah Mayun, menjelaskan bahwa untuk bisa menjadi Top 99 ini tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang panjang serta  melibatkan berbagai elemen dan komitmen bersama antara pemerintah daerah sampai kepada kalangan masyarakat bawah.

Kecamatan Gedangsari  dan Saptosari ditunjuk sebagai percontohan program inovasi penundaan pernikahan usia dini. Diketahui Kabupaten Gunungkidul angka pernikahan usia dini untuk tahun-tahun sebelumnya masih mencapai paling tinggi Se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan rata-rata pernikahan usia dini banyak terjadi di wilayah kecamatan pinggiran seperti Gedangsari dan Saptosari. Penyebab nikah usia dini karena banyak faktor.

Program inovasi penundaan pernikahan usia dini di UPTD Puskesmas Kecamatan Gedangsari II sudah dimulai dari tahun 2013.

“Awalnya ketika laporan tri wulan pertama kita menyampaikan permasalahan yang sebenarnya kompleks. Di Kecamatan Gedangsari ini, angka persalinan di usia remaja, angka ibu hamil beresiko, resiko ibu dan bayi meninggal dahulu tinggi,” jelas drg Diah Mayun.

Berangkat dari situ, lanjutnya, dia memaparkan bahwa permasalahan ini bukan saja masalah Puskesmas, tetapi permasalahan masyarakat luas yang notabene tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Puskesmas. Untuk mengatasinya harus bersinergi  dengan  semua elemen  masyarakat diantaranya  dengan  dunia pendidikan atau sekolah, Kantor Urusan Agama (KUA), Komando Rayon Militer, polisi, tokoh masyarakat sampai masyarakatnya itu sendiri.

“Sehingga pada waktu itu ada suatu kesepakatan membuat MoU (Memorandum off understanding) yang melibatkan dari pemerintah kecamatan, kepala sekolah se-Gedangsari, sampai paling bawah waktu kepala desa dan kesepakatan penandatangan MoU itu disaksikan oleh Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi ketika itu,” lanjutnya.

Tindak lanjut MoU adalah masing-masing kepala desa mensosialisasikan kepada dusun dan mendapatkan reaksi positif. Maka kemudian ada deklarasi para kepala dusun (dukuh) pada tahun 2013.

“Jadi karena itu memang permasalahan yang harus dihadapi bersama, maka dukuh se-Kecamatan Gedangsari mengadakan deklarasi bersama. Sehingga dukuhlah yang kemudian menyampaikan kepada seluruh elemen masyarakat” paparnya.

Apa yang dilakukan UPTD Puskesmas Gedangsari II berhasil. Faktanya  trend data pernikahan usia dini di wilayahnya dari tahun ketahun mengalami penurunan.  Awalnya, tahun 2012 angka pernikahan usia dini mencapai 11 pasangan, tahun 2013 ada 9, tahun 2014 sudah turun menjadi 6 dan tahun 2015 tinggal tersisa 3 pasangan nikah usia dini. Bahkan untuk tahun 2016 sampai saat ini angkanya nihil alias nol.

 Walaupun angka pernikahan usia dini mengalami trend penurunan, tidak bisa dipungkiri masalah  persalinan remaja masih saja ada.

“Penyebabnya karena mereka tidak nikah resmi atau nikah dibawah tangan dan itu bisa dideteksi dari angka persalinan di Puskesmas. Berarti analisanya, memang ada persalinan yang tidak melalui pernikahan secara resmi di KUA, dan itu yang masih menjadi  tantangan kita,” katanya.

Dijelaskan Diah, bahwa  sosiaslisasi tentang penundaan pernikahan di usia dini ini melalui para kepala dusun, Puskesmas Gedangsari II juga mengadakan program kegiatan yang melibatkan anak didik di sekolah-sekolah, dengan membentuk kader sekolah untuk diberikan penjelasan tentang kesehatan reproduksi.

Ia berharap dengan inovasi penundaan pernikahan usia dini ini bisa memutus mata rantai yang multi kompleks. Karena mata rantai permasalahan ini kalau tidak diputus nanti akan terjadi loose generationi, atau generasi yang kurang berkualitas, sebab bagaimanapun pernikahan untuk menuju suatu pintu gerbang suatu kehidupan.

“Kalau awal kehidupan dimulai dengan hal yang tidak baik atau tidak melalui jalur pernikahan resmi. Maka ke depan akan timbul permasalahan kompleks yang tidak baik pula,” pungkas Diah Mayun.

Sementara itu Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, S.Sos sepulangnya dari menerima penghargaan Top 99 dari pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada Kecamatan Gedangsari dan Saptosari yang sudah bisa menjadi percontohan sehingga meraih penghargaan Top 99.

“Dari jumlah 3.413 peseta diseluruh Indonesia, ternyata Gunungkidul mampu dan bisa mendapatkan  Top 99,” ujar Badingah disela-sela memperingati Hari Kartini yang dipusatkan di Balai Desa Selang, Wonosari beberapa hari lalu.

Dan ini berkat kerja dari semua elemen masyarakat yang sangat membantu dalam mensukseskan program dan tugas seorang bupati dalam memimpin pemerintahan.

Mengingat sebelumnya Gunungkidul meduduki peringkat paling tinggi pernikahan usia dini se- DIY,  Badingah menjelaskan bahwa banyak upaya yang dilakukannya untuk menekan angka tersebut. Pemkab Gunungkidul menggalakkan sosialisasi pencegahan pernikahan dini, kemudian membuat lagu, membuat slogan, intinya semua itu secara bersama-sama untuk menunda pernikahan usia anak. Yang terpenting ada komitmen antara pemerintah daerah, kecamatan,  pemerintah desa sampai kepada seluruh elemen masyarakat bawah.

 “Saya berharap kedepan di Gunungkidul tidak ada lagi pernikahan usia dini, sehingga anak anak yang lahir kelak menjadi generasi penerus perjuangan bangsa yang berkwalitas,”pungkas Badingah. W. Joko Narendro

INFO BISNIS

1. AHASS 693 WONOSARI HONDA SERVICE 

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari

Telp. (0274) 392266, HP. 087838272255

Melayani : Servis Gratis, Servis Ringan, Servis Berat, Press Porok, Press Body, Penjualan Spare Part Lengkap, Pemesanan Sparepart, Booking Servis dan Layanan Servis Antar Jemput. Dapatkan Kalender Cantik......segera & terbatas!!! Ayo ke Ahass 693....Program guru servis lengkap discount 50% dengan membawa copy kartu guru berlaku mulai tgl 21 November s.d 5 Desember. Bengkel Ahass tunggal tidak buka cabang di Wonosari!!!

2. ESTETHIC SALON & BODY SPA

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari HP.081802711531, WA.081227706969

Melayani : Perawatan Rambut, Perawatan Badan (Free Totok Wajah) Khusus Wanita, Perawatan Wajah (Standar Skincare Tarif Pelajar),Konsultasi Kulit dan Healthy.

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE