• Minggu, 15 Juli 2018
  • LOGIN
Nyemplak Istri Orang, Urusannya Bikin Runyam

Nyemplak Istri Orang, Urusannya Bikin Runyam

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Betul-betul menyesal Setyadi, 47, menyuruh istrinya, Muryati, 38, mengelola rumah makan. Sebab meski ada penghasilan tambahan, tekanan darahnya nambah juga. Istrinya, justru ngos-ngosan bersama seorang pelanggannya, Dulhadi 40, duda yang telah lama kapiran. Saking kesalnya Setyadi, Dulhadi digerebek saat kelon dengan istrinya.

Tugas suami adalah mencari nafkah demi keluarganya. Tapi tak selamanya penghasilan suami mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Di sinilah kemudian muncul istri-istri yang siap berwiraswasta untuk tambahan penghasilan dalam keluarga. Di banyak peristiwa, justru penghasilan istri yang meningkat pesat, karena usahanya menggurita. Misalnya Moryati Sudibyo, diawali modal Rp 125.000,- untuk usaha jamu di garasi rumahnya, kini menjadi pengusaha papan atas.

Muryati memang beda dengan Moryati. Ketika dia ikut bantu-bantu ceceker (cari usaha) dengan buka usaha rumah makan kecil-kecilan, yang diperoleh justru bukan kesejahteraan tapi malah keresahan keluarga. Gara-gara rumah makan di kios sewaan itu rumahtangganya hampir berantakan. Sebab dijamin pasti, Setyadi bakal menceraikannya di Pengadilan Agama.

Mengandalkan gajinya yang kecil, Setyadi yang pekerja jujur sangat kerepotan menghadapi defisit anggaran dalam rumahtangganya. Untuk menutupnya, dia coba-coba buka usaha rumah makan. Tempatnya nyewa di dekat pusat pariwisata yang lumayan ramai. Dimintanya sang nyonya, Muryati, untuk mengelola. Dengan keuntungan per hari mencapai Rp 200.000,-, berarti ada uang masuk non gaji sekitar Rp 6 juta sebulan tanpa PPN 10 % atau PPh 15 %. Orang Wonosari bilang: ngrengseng pokoke.

Tapi teori Setyadi ini hanya berlaku beberapa bulan saja. Bulan-bulan selanjutnya, meski penghasilan meningkat, tapi tekanan darahnya juga meningkat. Sebab warga Kecamatan Wonosari ini mendengar info bahwa istrinya ada main dengan salah seorang pelanggan rumah makannya, Dulhadi, asal Karangmojo.

“Tahu nggak kamu, kedoknya rumah makan, tapi istrimu saat sepi pembeli suka ngos-ngosan bersama Dulhadi,” kata seorang informan sekali waktu.

Belakangan info minus ini semakin santer. Dia mencoba klarifikasi pada istrinya, tapi jawabnya muter-muter tidak keruan. Meski tak melihat langsung, bisa ditarik benang merah bahwa praktek mesum itu memang ada. Berarti bisnis rumah makannya malah bisa dinilai rugi. Setyadi berharap banyak benggol (uang) mengalir deras, eh…..yang dapat justru “bonggol” lelaki lain masuk dalam asset pribadinya.

Tragisnya, tak ada tetangga yang mencurigai. Sebab biasalah yang namanya dagang ada sepi ada ramai. Saat ramai sibuk melayani pembeli, namun tiap sepi Muryati justru diapeli Dulhadi, seorang pemandu wisata setempat. Awalnya sih biasa, bercanda antara penjual dan pembeli langganan. Tetapi yang namanya witing tresno jalaran saka kulino benar-benar terjadi.

Entah Dulhadi memakai pelet jenis Semar Mesem atau Jaran Goyang, faktanya Muryati kedanan sama Dulhadi. Bukannya sibuk bekerja melayani pelanggan, justru Muryati dilayani jendulnya Dulhadi sampai ngos-ngosan, karena langsung pada sumbernya. Pokoknya, kicak jenang jae, krasa penak meneng wae (terasa enak diam saja).

Tentu saja Setyadi cemburu berat, masak Muryati yang cantik justru dijadikan “menu tambahan” pemandu wisata ? Saking tidak terimanya bini dibuat mainan, Setyadi menggerebek pasangan haram ini saat sedang saling banting dan saling piting antara hidup dan mati di dalam kamar kost yang disewa Dulhadi.

Keduanya tak berkutik saat Setyadi bersama warga melakukan interogasi memastikan telah terjadi skandal perselingkuhan.

 “Dia yang nawari, masak rejeki nomplok ditolak ? Kucing ditawari daging, yaaa disikat Bro,” kelit Dulhadi enteng.

Setyadi akhirnya mengalah, kasus ini tak dibawa ke ranah hukum, sanksinya Dulhadi harus mau menikahi Muryati setelah proses cerai di Pengadilan Agama selesai.

Terus nasib Setyadi bagaimana ?

“Kepeneran to Mas ? Saya malah bisa cari istri baru.. Wong saya juga sudah bosan kok sama Muryati. Sengaja cari gara-gara agar bisa cerai,” jawabnya enteng.

Wooo pada deglenge tibake. 

Gaib Wisnu Prasetya


SUPPORTED BY :
INFO GUNUNGKIDUL BISNIS
TANAH DIJUAL


● Tanah pekarangan
Luas tanah : 1002 M2
Luas Bangunan (Rumah ) : 1002 m2
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik.
Harga 1,3 jt/m2

● Tanah Pekarangan
Luas tanah : 94 m2, Lebar 7m X13,5 m
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik
Harga 155 jt

TLP/WA : 0813-2747-5010

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE