• Senin, 24 September 2018
  • LOGIN
Makna dan Filosofi Mendalam Dari Tembang Sluku-Sluku Bathok

Makna dan Filosofi Mendalam Dari Tembang Sluku-Sluku Bathok

Infogunungkidul, WONOSARI, Sabtu WageTembang Jawa Sluku-Sluku Bathok ini dahulu begitu akrab di telinga anak-anak, utamanya masyarakat Jawa era sebelum masuk tahun 90-an, dan ditembangkan pada waktu bermain-main. Sebagai anak-anak yang masa kecilnya bahagia, akan senang-senang saja mendengar tembang ini tanpa tahu makna yang terkandung pada lirik tembang sluku-sluku bathok.

Nah, jika ditelisik lebih jauh, ternyata lagu itu merupakan buatan Wali Songo yang digunakan sebagai metode dakwah. Dahulu Sunan Kalijaga membuat tembang untuk syiar agar mudah ditangkap masyarakat awam saat itu.

Syair Sluku-Sluku Bathok merupakan salah satu gendhing Jawa yang digunakan oleh Wali Songo untuk syiar agama Islam. Syair tersebut bukan sekedar syair, jika disimak lirinya begitu mempunyai filosofi yang dalam.

Tembang tersebut :

“Sluku-Sluku Bathok Bathoke Ela Elo

Si Rama Menyang Solo

Oleh-Olehe Payung Mutho

Mak Jenthit Lolo Lo Bah

Yen Mati Ora Obah

Yen Obah Medeni Bocah

Yen Urip Goleko Duwit”

Jika diperdalam ternyata maknanya seperti ini. Sluku-sluku bathok/Usluku suluka bathnaka Artinya: Hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja, waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi yang seimbang, bathok atau kepala kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuanya.

Bathoke ela-elo/Bathnaka La ilaha illallahu Artinya: Dengan cara berdzikir (ela elo laa ilaaha ilalloh) mengingat Allah. Hanya dengan banyak berdzikir maka syaraf neuron di otak akan mengendur, ingatlah Allah, dengan mengingat-Nya hati menjadi tentram.

Si Rama menyang Solo/Siiruu ma’aa man sholla Artinya: Siram (mandilah, bersucilah) menyang (menuju) Solo (sholat) lalu bersuci dan dirikan Sholat. Ingatlah bahwa Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkan Sholat maka dia juga membangun hubungan yang baik dengan Sang Khalik.

Oleh-Olehe payung mutho/Allahu faizun ‘ala man taaba Artinya: Maka kita akan mendapatkan perlindungan (Payung) dari Allah SWT.

Tak jenthit lolo lo bah/Ittakhidzillaha Robba Artinya: Kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu, tak dapat diprediksi dan tak juga dikira-kira, tak bisa dimajukan dan tak bisa pula di mundurkan. Tidak seorang pun di dunia ini tahu kapan dirinya akan mati, dimana akan di jemput Sang Malaikat Izrail dan bagaimana caranya meninggal dunia. Khusnul khatimah (Mati yang baik) ataukah Su’ul khatimah, itu semua tergantung tingkah laku dan perbuatan semasa hidup.

Wong mati ora obah/Man maata roaa dzunuubah Artinya:Saat kematian datang, semua sudah terlambat, kesempatan beramal hilang. Ingatlah saat ajal menjemput, semua hal di dunia harus ditinggalkan. Harta benda berlimpah tidak di bawa serta, derajat pangkat tinggi menjulang juga harus ditinggalkan. Semua hubungan dengan dunia terputus kecuali 3 hal. Amal jariyah selama hidup, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anaknya yang saleh/salihah.

Yen Obah Medeni Bocah/Dzunuuba dainin yaghillu yadah Artinya : Banyak jiwa yang rindu untuk kembali hidup di alam dunia. Maka pada Allah ingin minta dihidupkan lagi. Tapi Allah tak mengijinkan, jika mayat hidup lagi maka bentuknya pasti menakutkan dan mudhorotnya lebih besar.

 Yen Urip Goleko Dhuwit/Rottibil kolbi bil qouluts tsabit Artinya : Kesempatan beramal untuk beramal saleh hanya ada di saat sekarang saat masih hidup (selagi mampu dan ada waktu). Bukan dinanti (ketidak mampuan dan hilangnya kesempatan). Tempat beramal hanya disini (dunia) bukan disana (akherat). Disana bukan tempat beramal (bercocok tanam) tapi tempat memetik hasilnya (panen raya).

Menurut Endraswara (1999), tembang dolanan di atas dapat ditelusuri dari segi sufisme Jawa, yaitu filsafat Jawa yang sudah terpengaruh oleh ajaran Islam sehingga berbau mistik. Larik yang berbunyi “sluku-sluku bathok” berkaitan dengan “ghlusuk-ghlusuk batnaka” yang berarti ”bersihkanlah batinmu” makna dari larik itu adalah berupa perintah agar mencegah hawa nafsu terutama yang berkaitan dengan isi perut karena perut merupakan gambaran dari mikrokosmos.

Subhanallah, dalam sekali filosofi tembang “Sluku-Sluku Bathok” karya Kanjeng Sunan Kalijogo. Dan seniman sekarang belum tentu mampu menciptakan karya sehebat para Wali Allah ini. Semoga kita semua di beri keselamatan dunia dan akherat. Aamin. Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE