• Jumat, 19 Oktober 2018
  • LOGIN
Suami Nambang Batu, Istri Ditambang Tetangga

Suami Nambang Batu, Istri Ditambang Tetangga

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Rumah tangga Wahid, 35, benar-benar seru. Bagaiman tidak? Ditinggal dia bekerja sebagai buruh tambang, istrinya di rumah “ditambang” tetangga sendiri. Dongkol dan gemesnya Wahid adalah, beberapa waktu lalu sudah pernah digerebek, eh kok masih diulangi Dewi, 28, lagi dengan setelan yang sama pula. Habis kesabaran, istri di keler ke Pengadilan Agama

Buruh tambang batu manual, adalah pekerja yang selalu gali lobang tutup lobang dalam arti kata sebenarnya. Sudah bekerja di medan yang berat, salah-salah kena longsoran, tapi hasilnya tidak memadai juga. Dibuat makan sehari-hari tidak cukup, sehingga istri di rumah istri benar-benar tutup lobang gali lobang, agar ekonomi bisa sampai sebulan.

Wahid adalah sosok buruh tambang batu yang selalu dihimpit kemiskinan. Cari kerja yang lain tidak ada, ya sudahlah, dia terpaksa menjadi pekerja tambang batu manual. Sehari-hari dari pagi sampai sore, dia selalu berkutat dengan linggis dan gergaji untuk memperoleh batu putih yang bisa diuangkan kepada sang majikan. Batu putih itu nantinya bakal disulap menjadi aneka ornamen kerajinan mulai tempel dinding hingga garden lamp khas Gunungkidul yang siap dikirim ke Bali.

Sering ditinggal suami di tambang batu, ternyata membuat Dewi sungguh kesepian nan merana. Bayangkan, di sana suami ngebor batu, di sini istri jarang “dibor” kayak Inul. Sudah miskin harta, masak miskin juga kasih sayang dan kemesraan ? Yang tersisa setiap suami pulang hanyalah sesambat badannya lelah dan capek. Belum juga nyentuh istri langsung pelor, begitu nempel bantal langsung molor.

 

“Ah, begini memang resikonya jadi istri penambang batu. Kesepian dan merana selalu jadi makanan sehari-hari,” keluh Dewi dalam hati.

 

Adalah Tandi, 30, lelaki tetangga yang sepertinya sudah lama jadi pengamat. Bukan pengamat kriminal macam Adrianus Meliala, tapi pengamat perempuan semi janda macam Dewi ini. Setiap melihat sosok Dewi, dia lalu menganalisa, betapa sepinya kehidupan wanita berbodi seksi ini. Nampak dari pandangan mata Dewi yang kosong nan gersang tanpa siraman kasih sayang. Apa lagi bila Dewi mau berangkat resepsi dengan berselendang biru, jadi persis seperti lagunya Ki Nartosabdo tahun 1970-an.

 

“Kedhep tesmak aku nyawang slendhang biru, gelungane methok lamat-lamat tasikane…… Aaahperut mungkin selalu terpenuhi, tapi yang dibawah perut?” begitu kalkulasi Tandi sambil menelan ludah.

 

Pendek kata, setiap melihat istri tetangga, pendulum Tandi langsung kontak blip blip, sementara ukuran celananya mendadak berubah. Padahal sebagai lelaki mata keranjang macam dirinya, pantangan jadi NATO (Not Action Talk Only) alias ngomong doang. Apa lagi Dewi ini nada-nadanya takkan nyelaki janji (ingkar janji) atau sekedar ngenaki ati (bikin senang orang), maka diam-diam Tandi berusaha menaklukan istri penambang batu tersebut. Pokoknya vini vidi visilah; aku datang, aku goyang dan aku menang.

Dalam sudut pandang Tandi, dia jauh lebih segalanya dari Wahid. Bukannya narsis, apa yang bisa diharapkan dari seorang tambang batu ? Sudah keringatnya bau apek, kerjanya sehari-hari bergulat dengan linggis dan gergaji hingga tangannya ngapal kaya amplas.

Kali ini Tandi ingin membuat penderitaan Wahid semakin total. Istrinya yang cantik dan seksi itu, dalam waktu cepat atau lambat harus dipacarinya. Tandi yang merasa di atas segalanya, bikin target bahwa pada saatnya nanti harus “di atas” tubuh Dewii. Urusan tertangkap selingkuh, dipikir belakangan yang penting bisa ngasah pedang warisan nenek moyang.

Ternyata prediksi Tandi tidak meleset. Hanya diajak jalan-jalan lalu ditraktir masuk rumah makan, Dewii sudah jinak koyo manuk keno pulut. Buktinya ketika lain hari diajak pergi dan kemudian dibawa masuk hotel mau saja. Nah, di hotel ini semua baju Dewi terpaksa thethel (lepas), dan kemudian dia melayani nafsu Tandi dengan sejuta gaya dan selera.

 

“Pokoknya tak wolak-walik kaya srabi Notosuman Sala,” tekad Tandi yang telah berhasil menikmati kemenangan itu.

 

Karena biaya hotel mahal, maka aksi selanjutnya pindah ke kamar tidur Dewi. Baru beberapa kali berbuat, rupanya ketahuan oleh warga, sehingga hal itu diampaikan kepada pihak terkait, maksudnya: suami. Pengintaian dilakukan, dan berhasillah pasangan mesum itu digerebek. Karena Wahid masih sayang keluarga, dimaafkanlah kelakuan istrinya.

 

“Yang penting jangan diulangi, dan selalulah berjalan di rel yang benar,” begitu pesan Wahid.

 

Tapi di Gunungkidul kan tak ada sepur, jadi mana mungkin ada rel ? Maka hanya sebulan saja Dewi menyepakati konsensus itu. Ketika “naluri” selingkuh kembali hadir, dan si Tandi juga sudah selalu WA dan SMA mengajak berlomba-lomba dalam kebajingan, untuk kesekian kalinya aksi mesum jilid II berlangsung. Lagi-lagi warga ada yang mencium, dan kali ini tak ada ampun lagi. Begitu ketangkep langsung digampar Wahid dan ditundung minggat. Sementara Tandi langsung kabur menyelamatkan diri.

 

“Kemasi barang-barangmu. Minggat kamu dari sini.....” ketus Wahid mengusir istrinya.

 

Selepas istrinya minggat, Wahid segera menyiapkan berkas dan dokumen untuk mengurus perceraian dengan Dewi di PA Wonosari.

 

“Oaalah nasib Mas..... Biarlah dia saya lepaskan saja daripada bikin sakit hati,” keluh Wahid lemas. 

 

Gaib Wisnu Prasetya

 


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE