• Jumat, 19 Oktober 2018
  • LOGIN
Rumah Kosong Menyala Terang, Ternyata Oh Ternyata....

Rumah Kosong Menyala Terang, Ternyata Oh Ternyata....

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Rumah pinggir jalan besar itu sudah lama kosong, karena pemiliknya telah meninggal dunia. Tapi beberapa malam lalu tiba-tiba menyala dengan terangnya. Ternyata di dalam dua anak manusia sedang berbuat mesum. Mereka adalah Warso, 53, dan janda Siti, 42. Tentu saja warga menggerebeknya dengan penuh semangat.

Janda muda dengan usia sekitar 40 tahunan, bisa diprediksi pasti hidup dalam kesepian. Memang tak selamanya benar, tapi mayoritasnya begitu, karena lama tak begituan. Kondisi ini jika ketemu lelaki yang suka menggunakan kesempatan untuk mencari yang sempit-sempit, bahaya! Bisa janda muda itu habis diodel-odel, karena prinsipnya: bukankah memberikan sesuatu pada pihak yang membutuhkan akan lebih bermakna ? Kalau tidak ada yang mau ngopeni apa tidak kasihan ?

Warso dari Gunungkidul ternyata termasuk lelaki yang model demikian. Bila sarjana jadi pengamat politik, itu bisa saja terjadi. Tapi jika sarjana ekonomi malah jadi pengamat janda, mungkin hanya Warso ini. Yang “diamati” juga tak sembarang janda, tetapi tetangga sendiri, Ny. Siti, yang sekitar 4 tahun lalu cerai dengan suami.

Sebagai pengamat janda yang tak punya lembaga survei tentunya, Warso yang bertitel SE ini tahu persis bahwa Siti tetangganya itu pasti kesepian dalam sehari-hari. Banyak parameter yang mendukung kesimpulannya. Kalau meleset pun, margin errornya paling 1-2 persen saja. Maka tanpa melalui sistem random atau acak, Warso siap “mengacak-acak” si janda yang masih sangat STNK itu. Lebih-lebih wajah dan penampilannya juga sangat menarik. Kulit kuning langsat, rambut ngombak ngandan-andan bikin kepala Warso SE keliyengan.

Sayang kan, janda model demikian tak mendapat santunan cinta kasih ? Asal melihat janda yang satu itu, pikirannya langsung jadi ngeres saja. Si kelik di bawah sana yang biasanya jinak mulai mothah dan sulit dikendalikan. Lupa deh bahwa dirinya sudah beranak istri.

“Ya nggak apa-apa Bleh, kamu kan boleh saja melepas kebebasan berekspresi,” kata setan mempengaruhi.

Diam-diam Warso kemudian mendekati perempuan itu. Ternyata prediksinya tepat. Hanya dalam sekali putaran janda Siti siap diajak ke mana-mana. Artinya, siap melayani dan dilayani kebutuhannya oleh pengusaha warung makan itu. Maklumlah, menjanda terlalu lama memang tak nyaman juga. Kalau gatelnya punggung bisa digaruk, lha kalau gatel yang lain ? Repot juga kan ? Dan bukankah orang Yogyakarta punya ungkapan: dadi rondo ngentekno kloso ?

Kebetulan di lain kecamatan namun hanya bersebelahan desa, Warso punya rumah warisan orangtuanya. Semenjak sang ayah meninggal dunia, rumah itu dibiarkan kosong, bahkan lampunya juga dimatikan. Ke sanalah kemudian Warso ingin membawa Siti. Ketika negara sedang memperketat anggaran, Warso juga mencoba melakukannya. Ketimbang dibawa ke hotel di Yogyakarta, kan makan banyak biaya, mulai dari BBM mobil, chek in sampai jajan di jalan. Mending di rumah warisan saja, di samping isis (sejuk) juga gratis.

Kali pertama Warso “mengeksekusi” Siti berjalan dengan selamat, tanpa gangguan warga apa lagi PLN. Hasilnya jian temanja, Siti yang sudah 4 tahun menjanda mirip orang mengantuk disorong bantal. Tak perlu disuruh berlama-lama, langsung nebahi kasur dan mlumah. Siti diwolak walik kaya orang nggoreng telo oleh Warso. Pokoknya puas dan numani alias bikin ketagihan.

Tapi ketika mereka hendak mendulang sukses yang kedua, ternyata ada hambatan. Warga menjadi curiga saat rumah yang biasanya mati lampu, tiba-tiba menyala dengan terangnya. Tambah curiga lagi, tadi ada dua sepeda motor parkir di halaman, kini dimasukkan ke dalam rumah.

Warga diam-diam mencoba mengintip. Dugaaannya benar, dua anak manusia itu sedang oncek-oncekan mbligung bahkan melakukan persetubuhan bak suami istri. Langsung saja warga menggedor-gedor pintunya, mau digerebek. Tapi yang di dalam tetap bertahan. Baru setelah Pak Dukuh tiba, Warso-Siti siap diajak bermediasi. Di balai dusun keduanya mengakui bahwa telah berbuat dan sepakat menikah.

“Dimadu nggak papa, yang penting adil,” tegas Siti.

Tapi nantinya harus siap dikrawu Mbok Tua lho ! 

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE