• Minggu, 21 Oktober 2018
  • LOGIN
Satu Suro, Tradisi Malam Sakral Masyarakat Jawa

Satu Suro, Tradisi Malam Sakral Masyarakat Jawa

Infogunungkidul, WONOSARI, Rabu Pon--Masyarakat Jawa khususnya di Yogyakarta dan Solo (Surakarta) masih memegang teguh ajaran yang diwarisi oleh para leluhurnya. Salah satu ajaran yang masih dilakukan adalah menjalankan tradisi malam satu Suro atau satu Muharram sebagai tahun baru umat Islam. Malam tahun baru dalam kalender Jawa/Islam ini dianggap sakral bagi masyakarat Jawa. Tengah malam nanti, Kamis (21/09), bertepatan dengan 1 Suro/Muharram 1439 H.

Lantas bagaimana asal-usul malam 1 Suro dianggap sakral ? Tradisi malam satu Suro bermula saat zaman Sultan Agung bertahta di Keraton Mataram Islam sekitar tahun 1613-1645. Saat itu, masyarakat banyak mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Hal ini sangat bertentangan dengan masa Sultan Agung yang menggunakan sistem kalender Hijriah yang diajarkan dalam Islam.

Sultan Agung kemudian berinisiatif untuk memperluas ajaran Islam di tanah Jawa dengan menggunakan metode perpaduan antara tradisi Jawa dan Islam.

Sebagai dampak perpaduan tradisi Jawa dan Islam, dipilihlah tanggal 1 Muharam yang kemudian ditetapkan sebagai tahun baru Jawa. Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam satu Suro selalu diperingati oleh masyarakat Jawa.

Malam satu Suro sangat lekat dengan budaya Jawa. Iring-iringan rombongan masyarakat atau yang biasa kita sebut kirab menjadi salah satu hal yang bisa dilihat dan diikuti dalam ritual tradisi ini. Banyak pula yang merayakannya dengan tapa kungkum di tempuran sungai atau ritual membuang sial.

Para abdi dalem keraton, hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng serta benda pusaka menjadi sajian khas dalam iring-iringan kirab yang biasa dilakukan dalam tradisi Malam Satu Suro. Seluruh pusaka yang dimiliki juga akan dimandikan/dijamasi dalam prosesi jamasan pusaka.

Di Solo, biasanya dalam perayaan malam satu Suro terdapat hewan khas yakni kebo (kerbau) bule. Kebo bule yang dikirab keliling kota menjadi salah satu daya tarik bagi warga yang menyaksikan perayaan malam satu Suro. Keikutsertaan kebo bule ini konon dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Bahkan kotoran yang keluar dari tubuh sang kebo bule pun jadi rebutan masyarakat.

Berbeda dengan Solo, di Yogyakarta perayaan malam satu Suro biasanya selalu identik dengan membawa keris dan benda pusaka sebagai bagian dari iring-iringan kirab. Warga berduyun-duyun tapa mbisu mubeng beteng yang melingkari Keraton Ngatogyakarta Hadiningrat. Dengan tapa mbisu, warga merenung dan merefleksikan diri atas apa yang telah berlalu dan akan terjadi. Masyarakat termasuk penghageng Keraton Ngayogyakarta berharap tahun yang akan datang lebih baik dari sebelumnya.

Tradisi malam satu Suro menitikberatkan pada olah ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya, pada malam satu Suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.

Selain itu, sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling disini memiliki arti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sementara, waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. 

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE