• Selasa, 23 Oktober 2018
  • LOGIN
Goyangan Sang Mantan Bikin Pernikahan Hanya Seumur Jagung

Goyangan Sang Mantan Bikin Pernikahan Hanya Seumur Jagung

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Pernikahan Wiwin – Yanto belumlah begitu lama, boleh dikata masih masa bulan madu, wong baru bulan Besar kemarin disyahkan Pak Naib dilanjutkan resepsi geden-gedenan kok. Tapi dalam masa perkawinan yang seumur jagung itu, Wiwin, 20, sudah tega mengkhianati suaminya. Beberapa hari lalu dia digerebek Yanto, 27, saat kelonan dengan lelaki bekas pacarnya dulu, Budi, 25. Bagaimana suami tak mencak-mencak?

Cewek atau cowok, setelah menikah mestinya segera “tutup buku” atas kisah cintanya di masa lalu. Biar lebih cantik atau lebih ganteng si kekasih lama, tapi itu bukan lagi milik kita. Sebaliknya, jelek seperti apapun pasangan yang telah jadi suami/istri kita, itu wajib kita cintai, karena memang itulah jodoh yang diberikan Tuhan. Syukuri saja nikmat itu, pasti akan terasa lebih nikmaaaat!

Wiwin warga Kecamatan Ponjong ini agaknya tak mampu bersikap seperti itu. Lantaran perkawinannya tempo hari boleh kata “droping dari atas” alias dijodohkan orangtua, dia masih kemanthil-kanthil (ingat terus) pada kekasih lama, si Budi. Bahkan saat malam pertama berlangsung, dia merem-melek bukan menikmati “serangan umum” dari suami, melainkan karena tengah membayangkan sedang melayani Budi kekasih lama.

Awalnya Yanto tak begitu memperhatikan sikap istrinya, karena dia juga kurang tahu masa lalu istrinya. Begitu disuruh menikah dengan Wiwin, langsung saja mau, karena secara penampilan gadis itu memang serba menggairahkan dan menjanjikan. Mulus lus bak mobil baru keluar dari dealer. Ibarat orang mau makan, apa yang disodorkan di atas piring langsung dirahabi (dimakan) telap telep sampai kenyang. Selesai makan digelontor air putih, lalu sendawa hwoooeeekkkkk !

Nggak tahunya, Wiwin sesungguhnya tak merelakan tubuhnya dijamah lelaki lain yang bukan Budi. Maka sebagaimana telah dikatakan di atas, saat “serangan umum” non 1 Maret 1949, pelayanan Wiwin gelem ora-ora (setengah hati). Ibarat orang main bulutangkis, ketika Yanto memberikan lop-lop panjang, agar di samsh menukik, Wiwin di kala mengembalikan bola cukup dengan back hand saja.

Tentu saja ketika bola nyangkut di net, Yanto kecewa luar biasa. Apalagi sejak malam pertama mendapati istrinya ternyata sudah second hand alias tangan kedua. Faktanya meski di KTP berstatus belum kawin alias perawan, nyatanya sudah bolong melompong dan lancar jaya bak lewat jalan tol yang bebas hambatan.

Wiwin memang sangat hambar melayani suami, karena hati dan jiwanya terus menyala-nyala buat Budi cintanya seorang. Maka di kala suaminya sibuk kerja di kantor, dia sering telpon-telponan dengan kekasih lama. Ujung-ujungnya, kencan dilanjutkan dalam sebuah hotel di Kota Yogyakarta. Dalam hotel keduanya bebas mereguk madu asmara dengan aneka gaya dan asesorisnya.

Dan meski hanya sekedar jadi “generasi penerus” Yanto, Budi senang-senang saja, karena sudah ada penanggung jawabnya secara resmi. Jika terjadi apa-apa di kemudian hari (baca: hamil), semua di luar tanggungjawab percetakan. Padahal dia juga yang dahulu buka segel-nya si Wiwin.

Celakanya, ketika Wiwin sudah demikian menikmati hubungannya dengan Budi selaku PIL, pelayanan pada suami menjadi kedodoran. Dia tak lagi memberikan haknya secara maksimal. Sebagai pengantin baru, kan wajar saja Yanto minta jatah 2-3 kali sehari.

Tapi Wiwik selalu menolak, katanya: “Aja akeh-akeh, ndak pilek (jangan banyak-banyak, nanti flu).”

Padahal mestinya, justru istri mendorong untuk selalu menggebu-gebu. Semisal orang makan, ketika suami kurang berminat, mestinya dia bilang: 

“Dientekke sik, mengko pitike ndak mati (dihabiskan dulu, nanti ayamnya mati).”

Begitulah, pelayanan istri yang mulai mencurigakan, memancing Yanto untuk mengawasi gerak-gerik istri. Diam-diam dia membuntuti Wiwin saat dia pergi dari rumah. Ternyata di jalan motor yang dikendarai kemudian dititipkan di Siyono. Tak berselang lama muncullah Budi ke penitipan sepeda motor tersebut.

Ow..ow ternyata dia sudah janjian dengan seoraNg lelaki, yang ternyata bekas pacar lama. Ketika mereka masuk hotel di sebuah hotel di Kota Yogyakarta, Yanto bersama anggota keluarganya yang dengan sabar melakukan penguntitan kemudian menghubungi Satpam hotel untuk mengadakan penggerebekan. Perkiraannya benar, ketika digedor kamarnya, Budi-Wwin sedang berasyik masyuk dalam gelora asmara. Keduanya sedang bugil dan bersetubuh bak suami istri. Keruan saja Yanto jadi mencak-mencak dan segera menjatuhkan talak kepada istrinya.

Klambi ijo lho dik, aja digupaki. Iki bojoku lho dik, aja ditumpakiGaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE