Suami Bertapa Dipenjara, Istri Kurung Duda Tetangga
  • Senin, 20 Agustus 2018
  • LOGIN
Suami Bertapa Dipenjara, Istri Kurung Duda Tetangga

Suami Bertapa Dipenjara, Istri Kurung Duda Tetangga

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Mehdi 35, lelaki ini pintar baca peluang. Ada tetangga masuk penjara, dia memberikan bantuan pada istrinya, Neni 30. Bukan sembako, tapi kebutuhan dan kehangatan syahwati. Maka selama Bargo 40, di LP Medaeng Sidoarjo, Mehdi rajin memberikan BST (Bantuan Syahwat Tunai) untuk istrinya. Neni memang cantik semlohai kaya Dewi Persik, sehingga Mehdi sangat bersemangat.

Adab orang bertetangga memang harus tolong menolong. Sebab sesungguhnya tetangga itu akan menjadi saudara paling dekat. Boleh saja dia banyak famili, tapi jika semuanya di tempat barjauhan, ada apa-apa pasti larinya ke PPPT (Pertolongan Pertama Pada Tetangga). Maka jika tak mau bergaul dengan tetangga, itu sangat naif namanya.

Mehdi warga zona tenggara Gunungkidul, juga sangat mamahami akan perlunya adab bertetangga. Saking baiknya bergaul sama tetangganya, menggauli bini tetangga juga nggak nolak kok. Tapi semua itu tergantung juga sama tetangga itu sendiri, cantik apa berwajah pas-pasan ?

“Kalau cantik, tiga kali seminggu sesendok makan saya juga siap. Semalam naik tiga kali pun saya oke,” kata Mehdi tanpa tedeng aling-aling.

Kebetulan Mehdi memang punya tetangga cantik jelita, namanya Neni. Tapi sejak setahun lalu suaminya, Bargo, tak di rumah karena sedang “bertapa” di penjara Medaeng, Sidoarjo, gara-gara kasus narkoba. Bargo yang berprofesi sopir truk antar kota tertangkap tangan membawa sabu-sabu. Sidoarjo – Gunungkidul itu jauh lho, sehingga Neni jarang-jarang membezuk suaminya ke Medaeng.

Mehdi yang peduli pada lingkungan, maksudnya lingkungan tetangga yang sedang nganggur  berat karena jauh dari suami tersebut. Dia memprediksi berdasarkan parameter-parameter yang ada, pastilah Neni ini pasti kesepian sekali. Bayangkan, sudah jarang ketemu suami, kalaupun ketemu juga tak bisa apa-apa, karena di LP tak ada bilik asmara.

Sebagai wanita muda dan enerjik, Neni tentu saja tak hanya butuh materil, tapi juga onderdil. Namun sayang seribu kali sayang, semenjak Bargo di penjara dia tak pernah lagi mendapatkan pasokan materiil apalagi pasokan onderdil bawah perut dari suaminya. Praktis dia tak pernah lagi menjalani kegiatan yang sangat signifikan bagi suami istri tersebut.

“Aku harus bisa meringankan beban kerinduan tetanggaku ini. Mau beramal uang aku nggak punya, yaa hanya hal satu ini yang bisa kusedekahkan,” kata batin Mehdi.

Neni meski sudah berusia kepala tiga, tapi penampilannya sangat menjanjikan, sekel nan cemekel. Ibarat buah kweni, sekarang sedang matang-matangnya, baunya harum nyogrok irung. Wajib dinikmati dan pasti rasanya manis sekali………

Sementara itu Mehdi, sebagai duda lebih dari 3 tahun, juga merasakan hal yang sama. Sejak hidup menduda, dia juga tak pernah lagi menjalani kegiatan yang signifikan tersebut. Istrinya dahulu minta cerai lantaran pekerjaan Mehdi tidak jelas. Boleh dikata Mehdi–Neni sama-sama senasib sepenanggungan. Di sana sepi di sini sepi, padahal asmara sedang berapi-api. Secara ilmu ekonomi mungkin bisa diistilahkan, Neni punya demand dan Mehdi punya suplay.

Menjadi duda, penderitaan Mehdi memang tiada terkira, jika tak mau disebut menjadi ganas luar biasa. Maka melihat Neni yang sudah setahun lebih hidup menyendiri, dia mencoba mendekati.  Sebagai daerah yang masuk provinsi DIY, mestinya Mursid berpikir ulang beribu kali. Sanksi yang diterima kadang lebih berat dari hukuman Pak Polisi jika tertangkap ndemeni istri orang lain. Bisa kena denda batu puluhan rit truk, bahkan kalau apes digebuki orang sekampung.

Tapi dorongan setan begitu kuat, “Sikat saja Bleh, paling apes cuma kena denda atau menikahi,” bujuk setan.

Melihat situasi di lapangan, Mehdi langsung memastikan, wanita model Neni begini satu putaran juga kena. Dan ternyata memang betul. Beberapa kali Mehdi datang bersilaturahmi eeh berkunjung ke rumah Neni, lama-lama bersama-sama masuk sarung !

Sekian kali ketemu, akhirnya masuklah itu barang! Wah, baik Mehdi maupun Neni merasakan seperti layaknya pengantin baru lagi. Hidup mereka menjadi lebih bergairah. Maklumlah, ibarat sepeda motor, sudah bertahun-tahun kan tak pernah ngetap olie ? Maka bisa dipastikan pasti kentel mirip olie gardan lah ! Setiap habis ngetap olie, langkah Mehdi pun semlintir bak mobil habis service. Larinya kencang, langkahnya tegap sambil singsat singsot……Maklum lah habis entuk-entukan.

Demikianlah, asal situasinya mantap terkendali, Neni – Mehdi selalu menuntaskan gairah asmaranya. Sampai kemudian pada suatu waktu warga yang memergoki, tengah malam kok Mehdi masuk ke rumah Neni dengan loncat jendela. Jangan-jangan ?

Saat diintip, busyettttt….Keduanya sudah mbligung telanjang bulat bak ketela habis dikupas. Mulus lus tanpa selembar benang di badan dan sedang mendesis-desis lantaran berbuat layaknya suami istri. Kontan saja tetangga tersebut mengundang karang taruna, saat itu juga keduanya digerebek dan disidang perangkat desa. Dalam pemeriksaan keduanya mengakui bahwa sudah 5 kali berbuat mesum, termasuk yang digerebek ini.

Pamong desa setempat memang sangat cinta damai, meski belum pernah dapat hadiah Nobel Perdamaian. Ketimbang urusan sampai polisi yang panjang urusannya, lebih baik damai saja. Maksudnya, Neni-Mehdi siap menikah dengan catatan Neni harus bercerai dulu dengan Bargo. Ternyata keduanya tak berkeberatan, sehingga nota kesepakatan bermeterai Rp 6.000,- itu segera ditandatangani. Disisi lain, Mehdi Neni juga kena denda puluhan rit batu untuk pembangunan jalan kampung. Hal inipun disanggupi keduanya.

Tapi perangkat desa apa mikir nasib Bargo yang kedinginan di Medaeng ? Memang dia sudah ridla istrinya dinikahi sama Mehdi ? Kalau nggak ikhlas kan bisa berabe ?

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE