• Jumat, 16 November 2018
  • LOGIN
Nasib Duda Malang, Gigi Rompol Dihajar Suami Gendakan

Nasib Duda Malang, Gigi Rompol Dihajar Suami Gendakan

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Karno Sigit, 60, memang ganteng bak Adipati Awangga. Tapi sebagai seniman tanggung sejak muda, dari masa ke masa ekonominya pas-pasan terus. Menikah 5 kali, 5 kali pula diusir istri. Sebab istri cap apapun takkan sudi jika keluarga hanya dibangun dengan “aliran kebatinan”, yakni hanya diberi nafkah batin setiap malam tanpa adanya nafkah lahir penyangga jejege kendil.

Di era gombalisasi seperti sekarang ini, ketika filosofi wanita bergeser jadi “witing tresna merga atusan lima” (baca: materialistis), lelaki hanya modal tampang saja, takkan laku di pasaran. Bahkan NDX AKA jelas-jelas memproklamirkan bahwa jare nek ra FU ora ailapyu, jare nek ra Ninja ra oleh dicinta. Mending punya suami jelek seperti mercon bantingan, tapi pinter mencari uang, sehingga bini di rumah cukup mamah dan mlumah.

Karno yang berasal dari Semanu ini termasuk lelaki mujur. Dengan tampang lumayan ganteng, ditambah ketrampilan bermain gamelan banyak membuat gadis tergila-gila. Bermodal ngeplaki kendang, Karno begitu mudah menaklukkan wanita.

Baru usia 25 tahun waktu itu, di desanya dia sudah digila-gilai gadis tetangganya. Jadilah keduanya menikah. Tapi meski sudah punya istri, Karno tak juga mau mencari kerja. Maklum, mertuanya adalah blantik kondang yang kaya raya. Sehingga tanpa bekerja apapun kebutuhan Karno dan istrinya dijamin mertua.Lama-lama istrinya bosan, dan Karno disuruh pergi minggat dari kompleks Griya Mertua Indah.

Menjadi duda, mulailah Karno merantau ke Jakarta. Dengan modal ijazah SMP sebetulnya cari kerja di pabrik waktu itu masih gampang. Tapi dia tidak mau. Mending ikut grup karawitan Jawa, kerap ditanggap ke sana kemari dapat uang. Karno memang mahir memainkan berbagai macam gamelan. Mulai dari kenong, boning saron hingga kendang dia kuasai dengan sangat baik. Setiap bulan bagus, dia pasti diajak ikut main oleh grup karawitan

Ada cewek Serang, Banten yang terpikat akan ketampanan Karno, sehingga menikahlah mereka. Tapi karena penghasilan tidak menentu, sang istri tentu saja tidak tahan jika hanya diajak kelon dan diberi nafkah batin melulu. Karno pun ditendang, meski sudah punya anak beberapa biji. Tapi Karno enjoi dan santai saja menjalani hidup. Ketika mulai musim campursarinan, dia banting stir ikut musik campursari.

Karena ketampanannya, meski duda miskin masih ada saja perempuan yang mau ngukup (ambil) jadi suaminya. Tapi ternyata Karno tetap tak mau kerja yang bener. Bahkan saking miskinnya, bila diberi baju atau celana baru dari rekanan, diam-diam dijual lagi untuk dibelikan beras. Nah, begitu selalu, sang istri pun bosan lalu mengusirnya minggat.

Sial melulu di Ibukota, Karno pilih mudik kembali ke kampung. Kasihan anak lelakinya kedinginan setiap malam, lalu dinikahkan dengan gadis yang agak kenthir (setengah gila). Karno sih mau saja, wong sekedar buat “tamba anget”. Tapi karena tetap tak mau kerja, justru mertuanya yang mengusir si mantu.

“Jaman sekarang modal “aliran kebatinan” buat apa ? Mosok punya prinsip kok Mo-14 ? Kelewatan itu namanya,” keluh sang mertua.

Apa itu Mo-14 ? Ternyata singkatan dari Madep Mantep Mangan Melu Morotuo, Morotuo Muring-muring Mantune Minggat, Morotuo Mati Mantu Melu Marisi. Tak tahan dengan kelakuan menantu, untuk keempat kalinya Karno terusir.

Meski masih nampak sisa-sisa kegantengannya, dalam usia kepala enam Karno mulai susah cari bini baru. Kembali dia mencari pasar ke Ibukota. Ee, dasar milik, dia kenal wanita cantik di daerah Cibinong, namanya Neneng 40.

Orang kehausan diberi air mineral pasti segar sekali. Tapi kalau haus asmara macam Karno ? Hausnya orang karena kurang minum, tenggorokan terasa kering, badan jadi lemes karena terancam dehidrasi. Tapi jika haus karena asmara cinta, minum air mineral satu galon juga takkan sembuh. Obatnya hanya satu, bukan minum saribuah melainkan “minum” Neneng, yang tanpa sedotan pun jadi.

Alkisah, Karno sudah beberapa waktu hidup menduda. Dalam usia masih muda nan enerjik dulu, mencari wanita bukanlah hal sulit. Tapi sekarang dalam usia sewidak ? Siapa wanita yang mau dijadikan istri lelaki tua Bangka macam dirinya ?

Dalam kondisi gelisah nan risau tersebut, Karno merantau ke Ibukota dan berkenalan dengan Neneng. Sekali pandang, di bawah langsung ada yang nendang-nendang. Meski usia sudah kepala empat, tapi masih STNK. Rasanya masih enak digoyang dan perlu.

“Mudah-mudahan saja dia berstatus janda, sendirian macam diriku.” Kata batin Karno.

Harapan Karno tak terlalu meleset. Dari obrolan ngalor ngidul itu dapat informasi bahwa Neneng dalam kondisi status quo. Sebab meski ada suami, kini sudah pisah ranjang karena sedang proses perceraian di Pengadilan Agama Bogor. Batin Karno berandai-andai, jika surat cerai sudah terbit, hak oper garapnya segera bisa diurus. Nekad, perempuan cantik dianggapnya surat girik letter C saja.

Ketika Karno minta izin main ke rumah, ternyata Neneng mengiyakan saja. Sepertinya dia menganggap biasa saja dalam kondisi yang riskan dan sensitip itu. Wah, peluangnya semakin besar saja.

Batin Karno kemudian, “Saya kan pria santun dan seiman, pasti sekali putaran langsung kena dia.”

Ketika suami tak di rumah, Neneng memberi lampu hijau untuk datang malam hari saja. Katanya, situasi di rumah sangat kondusif, mantap terkendalilah pokoknya. Berdasarkan informasi itu, dengan pedenya Karno menghadiri undangan tidak resmi itu. Maklum, jadi duda kelamaan dendam rindunya terancam mengkristal.

Pukul 20.00 datang, tapi pukul 22 belum beranjak pulang. Bahkan saking ngebetnya, tanpa malu-malu Karno minta agar koalisi itu ditindaklanjuti dengan eksekusi. Dasar sudah sama-sama kehausan, aset nasional yang resmi masih milik suaminya, malam itu diserahkan kepada pendatang baru. Tentu saja Karno menikmati sambil merem melek. Maklum, sudah lama dia tak pernah ngetap olie.

Tapi sial, baru menyelesaikan babak pertama pintu didobrak orang. Buru-buru Karno kabur lewat pintu belakang tapi sudah langsung ditemu kuwuk (ditangkap) sejumlah pemuda.

Kontan saja Karno dihajar sampai beberapa giginya rontok. Karena si duda malang ini sudah ampun-ampun minta maaf, akhirnya oleh pengurus RT didamaikan saja, apalagi suami Neneng juga bisa memaafkan. Tentu saja dengan catatan Karno harus minggat dari kawasan Cibinong.

Jadilah dia pulang ke kampung dan menghindari kejaran keluarga Neneng yang masih dendam. Tapi sejak itu, Karno jika tertawa seperti trowongan KA Kampung Melayu, karena pasang gigi palsu saja tidak mampu. Ibarat sepeda motor dia beralih matic alias tanpa gigi.

Apalagi sekarang ada proyek, Kampung Melayu makin parah macetnya.

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE