• Sabtu, 22 September 2018
  • LOGIN
Asmara Gila Dosen Mahasiswi, Kegerebek Sedang Jemput Bola

Asmara Gila Dosen Mahasiswi, Kegerebek Sedang Jemput Bola

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Lantaran manusia modern kecanduan medsos seperti Facebook, WA, BBM de el el, keluarga bisa berantakan. Termasuk Nana, 25, dari Gunungkidul ini. Dari medsos inilah dia punya PIL si Panjul, 40. Ironisnya, sebagai wanita dia rela melakukan “jemput bola” ke rumah PIL. Suaminya pun marah, Nana dilaporkan ke polisi. Saat digerebek, ternyata mereka sedang “main bola”. Nana digerebek dalam kondisi tidak rok-rokan lagi. Suaminya sempat memukul Panjul, sebelum skandalnya diserahkan ke polisi.

Orang sekarang tak bisa hidup tanpa medsos dan HP, sehingga jumlah HP yang beredar lebih banyak dari jumlah penduduk RI. Tapi dunia internet ternyata bak pisau bermata dua, bila salah penggunaan bisa menimbulkan bahaya. Dewasa ini banyak rumahtangga berantakan gara-gara suami atau istri punya PIL/WIL yang diperolehnya lewat Facebook dan sejenisnya.

Apa gerangan paling enak, ketika siang hari bolong nan panas itu. Minum es kelapa muda, begitu kebanyakan orang akan menjawab. Tapi di DIY, justru dijawab dengan fakta: kelonan bersama makhluk lain jenis. Jika hal itu dilakukan bersama pasangan resmi, orang pun tak ambil peduli. Tapi karena aksi mesum itu dilakukan oleh unsur dunia pendidikan, warga pun bertindak dengan cepat.

Unsur dunia pendidikan itu adalah Panjul, oknum seorang dosen perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sedangkan mitra tandingnya adalah Nana, mahasiswi asal Gunungkidul di kampusnya sekaligus ibu rumah tangga. Setelah berulang kali berbuat mesum, pada aksinya yang terjadi beberapa hari lalu, keduanya tak berkutik digerebek suami Nana bersama warga. Lebih-lebih kondisi mereka sedang terkelupas habis (baca: telanjang) seperti singkong siap goreng.

Di rumahnya, sebetulnya Panjul sudah memiliki istri dan sejumlah anak. Tapi sebagai dosen yang haus asmara, dia masih suka bermain api. Ketika dia kenal dengan Nana yang muda nan ceria dan jelita. Mentang-mentang dosen, kata batinnya langsung mengatakan,

“Wah ini enak juga buat KKN (Kuliah Kerjain Nona).”

Aksi cepat tanggap pun dilakukan, Panjul minta nomor kontak Nana yang ada nomor WA-nya sekalian Pin BBM dan akun Facebook-nya.

Sebagai manusia modern yang doyan HP, Nana pasti memiliki semua itu. Lewat HP canggihnya dia bisa main internetan, FB-an dengan sahabat dan kenalan baru. Sejak memiliki kontaknya Nana, setiap hari Panjul selalu kontak, ngajak cerita ini itu sampai hal-hal yang bersifat pribadi.

Edan betul si Nana ini. Meski sudah punya suami, dia mau saja menanggapi kontak dosen Panjul yang mulai menjurus. Buktinya ketika dia mengajak ketemuan di luar kampus, Nana menanggapi dengan gegap gempita. Jadilah mereka ketemu di sebuah tempat. Ternyata keduanya sama-sama cocok, surat-surat komplit dan pajak panjang, ngkali.

Agaknya mereka memang sudah sama edannya. Terbukti keduanya kemudian sepakat masuk hotel. Di sinilah koalisi itu langsung dilanjutkan dengan eksekusi. Kalau eksekusi dari Kejaksaan Agung selalu menghindari musim hujan, justru “eksekusi” model Panjul–Nana ini paling mengasyikkan di saat turun hujan. Paling tidak, lebih seru dan anget, begitu.

Tapi di hotel kan membutuhkan anggaran banyak, karena perselingkuhan itu termasuk proyek padat modal. Karena itulah, demi pengetatan anggaran, aksi eksekusi selanjutnya dilakukan di tempat lain. Panjul menyewa kamar kost-kostan, tepatnya di jalan Kaliurang. Di sini akan chek in berhari-hari pun takkan dikenakan bayaran lagi.

Ironisnya, sebagai wanita rupanya Nana termasuk perempuan gatel. Kalau gatelnya panu, dihantam Kalpanax atau Pagoda Eksim Salf bisa amblas. Lha kalau yang “gatel” adalah nafsu syahwatnya? Nah, saking gatelnya Nana, meski pihak perempuan dia mau saja mendatangi kos-kosan Panjul dalam rangka “jemput bola” lewat paket sistem manunggal satu ranjang.

Keseringan pergi dari rumah tanpa pamit dengan alasan tugas kampus, menjadikan Hendrik 30, suami Nana curiga. Jangan-jangan istrinya mulai bermain serong. Tapi saat dia melancarkan tuduhan itu, Nana justru menantang.

“Mana buktinya aku selingkuh. Menuduh orang tanpa bukti bisa dituntut loh…..,” gertak Nana yang membuat Hendrik mengkeret kayak kerupuk disiram sayur bening.

Akan tetapi Hendrik tak mau menyerah. Begitu istri pergi ke kampusnya terus dibuntuti, ternyata Nana nggak ke kampus, namun malah masuk ke kos-kosan di belakang salah satu hotel di bilangan Jalan Kaliurang. Segera saja Hendrik mengajak warga setempat untuk dilakukan penggerebekan. Tak lupa hal tersebut dilaporkan polisi. 

Ternyata betul, saat didobrak warga, Nana dan Panjul didapati sedang “bermain bola” dengan serunya. Entah skor-nya masih 0-0 atau bahkan 3-1 tidak diketahui. Yang jelas Hendrik murka dan menggasak muka Panjul dengan kepalan ketupat Bengkulu.

“Tangkap dan penjarakan mereka,” kata Hendrik geram.

Hendrik pasti kesal, karena istri kadung dedel duwel kena tendangan duabelas pas dari Panjul.

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE