• Senin, 24 September 2018
  • LOGIN
Joglo Abad 18 Dibiarkan Tak Berpenghuni, Ditunggu Ular Besar

Joglo Abad 18 Dibiarkan Tak Berpenghuni, Ditunggu Ular Besar

Infogunungkidul, GEDANGSARI, Kamis Legi-Meski tak berpenghuni, Joglo tua peninggalan seorang demang di Dusun Demangan, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari terlihat sangat kokoh. Konon seluruh bangunan, dibangun hanya  menggunakan 2 pohon jati saja, yaitu satu milik penduduk, dan satu pohon lain ditebang dari area kuburan.

Adi Sutrisno (95), sesepuh Padukuhan Serut, bercerita, rumah Joglo tersebut milik Demang Pawiro Diharjo almarhum, berdidiri pada abad 18.  

Masa kecil, Adi Sutrisno yang lahir 1922 ini mengaku diwarisi cerita kakek Setu. Joglo Demang Pawiro Diharjo mulai dari sokoguru, tumpangsari, tiang penanggap hingga usuk, serta reng hanya membutuhkan dua batang pohon jati.   

“Satu pohon jati yang digunakan Ki Demang Pawiro Diharjo adalah milik mBah Setu, kakek saya,” kata Adi Sutrisno, (1/11)

Menebang satu batang jati menurut cerita, butuh waktu 40 hari. Itu pun, tutur Adi Sutrino, didahului dengan kenduri selamatan.

“Kayu jati yang lain diambil dari Pesarean Cekarang. Panjangnya lebih dari 12 meter digunakan sebagai blandar Joglo,” kata dia.

Terselip cerita lain, setelah bangunan berdiri, keanehan pun muncul. Ular seukuran pohon kelapa masuk Joglo. Ki Demang tak kehilangan akal. Dengan cara manusia yang memiliki kelebihan,  ular tersebut disandra.

Begitu Demang Pawiro Diharjo meninggal, joglo diserahkan ke Sastro Pandoyo, anaknya. Singkat cerita, Sastro Pandoyo hanya menempati bangunan belakang joglo, karena tidak kuat.

“Sastro Pandoyo cenderung sakit-sakitan. Hingga kini joglo itu dibiarkan kosong,” tambahnya.

Mengenang masa kecil, Adi Sutrisno bersama teman menjajal tidur di joglo. Tanpa diketahui, dia tiba-tiba berpindah di kebun atau halaman rumah.

Reporter: W. Joko Narendro


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE