• Rabu, 18 Juli 2018
  • LOGIN
Asmara Terkutuk Pria Tetangga

Asmara Terkutuk Pria Tetangga

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Dalam usia nyaris kepala 6 agaknya Katiman 58,  sudah tidak bisa lagi memuaskan istrinya. Tak tahan menahan kebutuhan yang mendasar, Ny. Kasmirah 47 pun nekad memasukkan PIL muda ke kamarnya. Begitu ketangkap basah, pasangan mesum itu berbuntut panjang hingga keluarga terancam perceraian.

Kata orang, dalam urusan libido atau syahwat kaum lelaki tak mengenal pensiun. Sampai usia berapa pun dia masih mampu, meski frekwensinya sudah menurun. Beda dengan kaum Hawa, ketika menopause (berhenti haid) sudah terjadi atas dirinya, dia tidak maju lagi dalam urusan “kebutuhan” suami istri yang paling mendasar. Tentu saja “dalil” itu kadang terjadi kebalikannya (aksioma) juga, di mana baik suami maupun istri keluar dari kebiasaan tersebut.

Lelaki yang masuk dalam golongan “aksioma” ini di antaranya Katiman, warga Kecamatan Wonosari. Baru 2 tahun pensiun sebagai PNS, dia rupanya sudah ikut-ikutan pensiun dalam urusan ranjang. Kalau pun masih ada, sifatnya hanya insidentil, tidak menentu dalam sebulan. Kadang ada, kadang tidak, tapi yang banyakan justru tidaknya. Maklum, di kota budaya seperti Yogyakarta ini, hiburan lain begitu banyak. Nyetel radio misalnya, programa 4 RRI Yogyakarta seharian isinya siaran yang memanjakan kuping orang Jawa.

Beda pula dengan Ny. Kasmirah istrinya. Meski usia sudah nyaris kepala 5, dia masih sangat merindukan kehangatan malam. Sayangnya, suami sudah tidak bisa memberikan sebagaimana mustinya. Bagaimana nggak kelara-lara (korban perasaan), dia merindukan sentuhan suami malam itu, eh Katiman malah sibuk kruack-kruickcari gelombang radio sambil kebal kebul ngakep rokok. Nyetel uyon-uyon atau wayang kulit dari Radio Argo Sosro. Di luar dia nyetel Pangkur Jenggleng, padahal di kamar istri kepengin “dijenggleng” suaminya juga.

Jikalau Ny. Kasmirah orang beriman, mestinya bisa memaklumi kondisi suami yang sudah drop. Tapi dianya tidak demikian. Lama tak dapat belaian kasih seorang lelaki, dia benar-benar kelimpungan. Kalau soal kebutuhan perut, di rumah tidak ada nasi, bisa jajan di warung, wong uang pensiunan suami juga ada. Lha kalau kebutuhan di bawah perut? Harus ke mana hamba mencari solusi?

Adalah lelaki tetangga bernama Ngadiyo. Sebagai lelaki sudah cukup makan garam, dia tahu persis gejolak batin yang dialami wanita tetangganya itu. Kebetulan istri Katiman ini cukup cantik dan menarik, sehingga sebagai lelaki penolong dia pun “terpanggil” untuk mengulurkan bala bantuan.

“Selagi aku masih mampu, siap membantumu.” Begitu kata batin Ngadiyo sebelum mencoba pedekate.

Dan ternyata signal-signal asmara yang dikirimkan Ngadiyo ditangkap jelas oleh radar Ny. Kasmirah. Demikianlah, sekali waktu keduanya mencoba masuk ke hotel di bilangan Giwangan, dekat terminal bis. Ternyata tongkrongan anak muda ini memang sesuai dengan “tangkringan”-nya, sehingga Ny. Kasmirah semakin ketagihan. Seminggu tak ketemu dengan Ngadiyo, rasanya seperti ibu rumahtangga yang ditinggalkan bawang dan brambang gara-gara harganya menggila.

Entah kenapa, pas tak ada uang atau bagaimana, kali ini Kasmirah justru mengajak gendakannya “bercengkerama” di kamar rumah sendiri. Mentang-mentang suami sedang pergi ronda malam. Padahal, di kala keduanya sedang asyik masyuk bergulat antara hidup dan mati, aksi mesum itu dipergoki oleh anaknya sendiri yang masih duduk di bangku SMP. Keruan saja si bocah segera lapor pada ayahnya.

“Pak, Pak, galo kae ibuk lagi njathil karo Ngadiyo….,” begitu kira-kira si bocah saat lapor kepada ayahnya.

Katiman segera pulang dan bersama tetangga pasangan mesum itu digerebek. Perangkat dusun dilapori untuk menyidang pasangan non muhrim ini. Sebagai barang bukti, ditunjukkanlah dua celana dalam dan sarung.

Dalam pemeriksaan Kasmirah maupun Ngadiyo mengaku apa adanya, tapi katanya baru dua kali ini aksi mesum itu dilakukan. Pertama di sebuah hotel dan kedua di rumah sendiri. Untuk itu Ngadiyo dan Kasmirah mohon dimaafkan atas segala kilap dan kesalahan.

“Lha kok le gunyih (enak amat). Kono diterus-teruske le ngedan (silakan dilanjutkan main gilanya),” kata Katiman dengan muka merah padam menahan amarah dan malu didepan warga.

Tanpa ampun Katiman yang pensiunan pegawai negeri ini mengambil keputusan untuk segera menceraikan Kasmirah.

“Biar dia bisa bebas ngujo ngisor wudel dengan demenannya. Anak-anak biarlah ikut saya, wong mereka sudah besar-besar kok,” kilah Katiman.

Bawa “jago” ke kamar sendiri, sama saja bunuh diri to Bu, hilang to jatah pensiunmu ?

Gaib Wisnu Prasetya


SUPPORTED BY :
INFO GUNUNGKIDUL BISNIS
TANAH DIJUAL


● Tanah pekarangan
Luas tanah : 1002 M2
Luas Bangunan (Rumah ) : 1002 m2
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik.
Harga 1,3 jt/m2

● Tanah Pekarangan
Luas tanah : 94 m2, Lebar 7m X13,5 m
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik
Harga 155 jt

TLP/WA : 0813-2747-5010

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE