• Sabtu, 20 Oktober 2018
  • LOGIN
Kado Keji Menjelang Hari Guru ke 72

Kado Keji Menjelang Hari Guru ke 72

Infogunungkidul, WONOSARI, Minngu Pon, Sehari sebelum puncak peringatan Hari Guru Nasional ke 72, 25 November 2017 terjadi tragedi menyedihkan. Pelajar SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Rumpin, Kabupaten Bogor, terlibat duel maut (24/11). Sebagaimana ditulis detik.com, satu siswa berinisial ARS tewas terkena sabetan celurit. 

Kado keji dan mengerikan buat para guru. Bung Karno melalui tulisan tangan pernah mengingatkan, guru di masa kebangunan (revolusi) harus berpegang teguh pada sabda Rasululloh.

Di masa reformasi, pesan Bung Karno rupanya dianggap tidak relevan di masa reformasi. Akibatnya, duel satu lawan satu pun terjadi di Kabupaten Bogor.

Mengutip pikiran Bung Karno, di negeri ini sedang terjadi kesalahan besar yang tidak pernah disadari oleh semua. Dalam sejarah, duel maut pelajar satu lawan satu seumur Indonesia merdeka baru terjadi sekali.

Di masa kebangunan, tulis Bung Karno, maka sebenarnya tiap-tiap orang harus menjadi pemimpin, harus menjadi guru.

Politisi menjadi gurunya masa. Jurnalist menjadi gurunya pembaca. Pejabat negara menjadi guru bagi para pegawai. Mas Lurah (Kades) menjadi gurunya masyarakat desa. Suami menjadi gurunya istri dan anak.

“Semua orang menjadi gurunya semua orang,” tegas Bung Karno dalam buku DBR, halaman 611.

Soekarno menulis pesan di atas merujuk Sabda Rasululloh, bahwa setiap kamu adalah pemimpin.

Jiwa pemimpin, jiwa guru, terasa jauh, bahkan hilang, sehingga tagredi Rumpin-Bogor terjadi. Mencari kambing hitam siapa yang salah adalah merupakan upaya menyangkal ketercerabutan ruh pemimpin dan ruh guru dari bangsa berpenduduk 250 juta orang.

Menyimak dan melaksanakan pesan Sang Proklamator adalah kearifan sekaligus kerendahatian menuju bangsa besar, bangsa yang Berbhineka Tunggal Ika.

Redaksi


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE