• Minggu, 22 Juli 2018
  • LOGIN
Kakek Jompo ini Merangkak Hanya Untuk Sekedar Beli Kopi

Kakek Jompo ini Merangkak Hanya Untuk Sekedar Beli Kopi

Infogunungkidul, PLAYEN, Selasa Legi, - Seekor induk ayam mampu membesarkan 10 anaknya, namun belum tentu 10 ekor anak ayam peduli akan nasib induknya. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan nasib Murwoto 76, warga Desa Playen, Kecamatan Playen. Kakek jompo ini terpaksa merangkak ratusan meter dari rumah untuk sekedar membeli segelas kopi, Selasa (12/12).

Tragisnya, Murwoto mengaku sudah 6 hari tidak makan semenjak pulang dari RSUD Wonosari akibat tertabrak mobil saat hendak ibadah Sholat Subuh. Ditemui di tepi jalan Playen-Paliyan, Murwoto tampak emosional jika nama anaknya disebut. Benang jahitan masih tertempel dibagian wajahnya, sejumlah luka juga yang mulai mengering nampak ditubuh pensiunan PNS Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul ini.

“Jangan sebut anak ! Saya tidak punya anak, mereka semua durhaka pada orangtua. Tidak ada yang mau mengurus. Tahu bapaknya sakit seperti ini kenapa tidak ada yang mau mengurus ? Menengok saja tidak kok,” tuding Murwoto emosional.

Dari pendekatan hati ke hati, akhirnya Murwoto bercerita kalau dirinya sebenarnya memiliki 6 orang anak dan beberapa cucu.

“Ada yang di Bintaro, Wirobrajan, Sekarsuli, Bantul, terus yang di Playen sini dua orang. Semuanya tidak ada yang peduli,” katanya.

Murwoto mengaku mengalami 2 kali kecelakaan lalu lintas pada bulan yang lalu. Semuanya terjadi saat hendak melaksanakan Shalat Subuh berjamaah ke masjid dan tragisnya tidak satu pun yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang dialaminya. Yang pertama dia bisa bangkit sendiri tanpa mengalami luka berarti, namun yang kedua dia terluka lumayan parah hingga harus rawat inap seminggu di RSUD Wonosari.

Lantaran penabraknya lari, praktis semua biaya di rumah sakit ditanggung BPJS, dan selama rawat inap itu tidak ditunggui anaknya. Padahal dia mengalami sejumlah luka di bagian muka dan kakinya sangat sakit sehingga tidak dapat lagi berjalan kaki.

Dengan raut muka sedih Murwoto menceritakan nasib pahit yang dialaminya. Semenjak Siti Kamdiyah, istri tercintanya meninggal dunia pada 2015 silam, tak seorang pun anaknya yang peduli keberadaan Murwoto. Makan, minum hingga MCK dan semua aktivitas dilakukannya sendiri tanpa bantuan anak. Padahal dirinya sudah jompo dan tak bisa berbuat banyak seperti saat muda dahulu.

Praktis hanya Marlan, saudara jauh yang tinggal di samping BRI Playen yang sudi mengurusnya. Hal inilah yang menyebabkan Murwoto lebih enjoi tinggal di rumah saudara jauh ketimbang dirawat anaknya sendiri.

“Tolong panggilkan Ilan (red-panggilan akrab Marlan) kesini. Saya sudah tidak kuat lagi dan ingin mengambil tongkat serta peralatan mandi saya,” pinta Murwoto.

Terpisah, Marlan sembari berurai airmata mengelus dada atas nasib yang menimpa Murwoto. Dia pun tak menampik jika Murwoto beberapa tahun terakhir ini terkesan ditelantarkan anak-anaknya.

“Duuh tega benar anaknya, dia itu menikah dengan anaknya almarhum Bude saya. Di rumah sakit pun memang saya yang merawat, masalah anaknya tidak mau mengurus itu penyebabnya apa, saya kurang tahu,” jelas Marlan.

Marlan pun mengaku sempat emosi atas sikap anak-anaknya Murwoto, sebab saat sakit di RSUD Wonosari yang bersangkutan menyatakan keinginannya untuk bertemu salah satu anaknya yang tinggal di kabupaten lain.

“Saat anaknya saya telepon malah bilang nggak usah (dengan ketus), katanya kalau diantarkan hanya akan bikin kisruh. Sakit hati saya mendengar jawaban seorang anak kok seperti itu,” sambungnya.

Untuk mengurus kehidupan sehari-hari Murwoto, dirinya menyatakan ikhlas tanpa tendensi sedikit pun. Namun berhubung mendapatkan kata-kata tak mengenakkan dari salah satu anaknya Murwoto, maka sepulang dari RSUD Wonosari dikembalikan kepada salah satu anaknya agar dirawat sebaik-baiknya.

“Anaknya itu seolah cemburu lantaran yang mengantarkan Murwoto ambil pensiun ke bank itu saya. Padahal serupiah pun saya tak meminta uang darinya. Ikhlas lahir bathin, wong berak sama baju celananya saja saya laundry gratis kok,” pungkas Marlan.

Begitu mendengar nasib Murwoto yang merangkak di tepi jalan hanya untuk sekedar beli kopi, Marlan menyatakan akan segera menjemput Murwoto untuk dirawat dirumahnya.

Gaib Wisnu Prasetya_ig


SUPPORTED BY :
INFO GUNUNGKIDUL BISNIS
TANAH DIJUAL


● Tanah pekarangan
Luas tanah : 1002 M2
Luas Bangunan (Rumah ) : 1002 m2
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik.
Harga 1,3 jt/m2

● Tanah Pekarangan
Luas tanah : 94 m2, Lebar 7m X13,5 m
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik
Harga 155 jt

TLP/WA : 0813-2747-5010

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE