• Rabu, 18 Juli 2018
  • LOGIN
Efek Bojo Galak, Babu Naik Pangkat Jadi Nyonya Majikan

Efek Bojo Galak, Babu Naik Pangkat Jadi Nyonya Majikan

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Sebagai Babu alias pembantu rumah tangga, jelas Sumilah 30, tak punya elektabilitas di mata majikan. Tapi karena istri Yuwono, 45, makin njelehi (menyebalkan) dan ngelunjak, elektabilitas Sumilah melonjak sampai 58 %. Diana, 40, selaku istri syah memilih gugat cerai ke Pengadilan Agama. Eh, suami setuju, dan elektabilitas Sumilah mencapai 100 %. Kawinlah mereka dan Diana ujungnya merana.

Hati-hati dengan pembantu muda nan cantik, bisa mengancam elektabilitas istri di mata lembaga survei. Ini sudah banyak kejadian. Penyebabnya macam-macam. Bisa suami kelewat genit, bisa pula istri memang kelakuannya sangat menyebalkan, sehingga suami justru lebih dekat dengan pembantu. Maka jika tiba-tiba babu pamit mengundurkan diri, hati-hati. Siapa tahu……..

Dengan gaji lumayan gede di bank swasta, sebetulnya Yuwono warga Wonosari ini belum ingin punya pembantu. Tapi karena istri maunya jadi ibu rumah tangga yang santai, Yuwono menerima saja saran istri untuk mempekerjakan Sumilah, orang sekampung Diana di Tepus. Itung-itung menolong, karena Sumilah adalah janda yang baru ditinggal mati suami.

Sejak ada pembantu di rumah, Diana beralasan bisa fokus mengurus dua anaknya. Sedangkan soal masak dan mencuci dilimpahkan pada pembantu. Kebetulan masakan Sumilah ini mak nyusss dan nendang banget, sehingga Yuwono pun makin cocok pada pembantu barunya itu. Padahal ada ungkapan lama mengatakan; cinta lelaki bisa dimulai dari perut, baru kemudian mengarah yang di bawah perut.

Sebetulnya selama ini ada bara dalam sekam, di dalam rumahtangga Yuwono-Diana. Soalnya, Diana kelewat galak bak macan habis beranak. Diana juga terlalu mengatur suami. Misalnya, Yuwono tidak boleh merokok, karena pengetatan postur anggaran dalam rumah tangga tidak ada kemajuan. Ke kantor sehari hanya dijatah Rp 50.000,- untuk transport dan jajan ala kadarnya. Bila ada sisa, harus dikembalikan pada istri. Tak boleh keluyuran, dilarang begadang, tak boleh ini tak boleh itu. Dan jika dilanggar, tak segan Diana ngamuk dan berkata kasar pada suaminya.

Soal uang harian Rp 50.000,- pun Diana ketatnya minta ampun. Jika tak ada sisa, mesti dijelaskan untuk apa saja. Mampir dimana dan seterusnya. Benar-benar Diana sudah seperti pegawai BPK saja. Cuma selaku “auditor” Diana tak bisa disogok sama sekali macam oknum, agar Yuwono dapat opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Diana juga tak kenal pameo:

“cek sana cek sini tidak cocok, tapi diberi cek langsung cocok!”

Paling menyebalkan buat Yuwono, kontrol ketat soal rokok itu. Di rumah dia dilarang merokok, tapi di kantor dia bisa klepas-klepus macam pabrik saat jam istirahat. Jika tak beli sendiri juga nebeng milik teman. Sampai di rumah ribut, karena mulut Yuwono bau tembakau.

Selaku pembantu, Sumilah suka kasihan pada majikan lelakinya itu. Masak, dia yang cari duit kok anggaran sehari-hari diperketat ? Wong lanang mosok ora diajeni bojo ? Diam-diam Sumilah suka mensupport Yuwono pakai kata-kata klasik,

“Yang sabar ya Pak…..” kata Sumilah, niru-niru solusi Gubernur DKI.

Dari situlah Yuwono mulai tertarik pada pembantunya. Kebetulan Sumilah ini juga lumayan cantik dan berbodi semlohai juga. Lebih muda lagi dibandingkan Diana yang sekarang sudah beranak dua kali. Hanya nasib saja yang membuatnya jadi janda, sebab hingga 5 tahun menikah tak kunjung punya anak bahkan suaminya malah tewas kecelakaan lalu lintas.

Witing tresno jalaran saka kulino, dan itu terjadi pada Yuwono-Sumilah. Diam-diam Yuwono sering nyambangi kamar Sumilah di kamar belakang. Yuwono sering dikecewakan istri, Sumilah sudah beberapa lama tak kambon lanangan sejak suaminya meninggal. Klop dah jadinya, dikamar pembantu Yuwono diperlakukan bak raja oleh Sumilah. Mau gaya apasaja bisa dilakukan

Dan ternyata Sumilah tak kalah mak nyusss dan nendang pelayanannya dalam olah ranjang  dibanding Diana. Yuwono puas lahir bathin, Sumilah terpuaskan dahaganya selama ini. Jadilah terbangun skandal permesuman majikan pembantu dalam rumah tersebut selama berbulan-bulan tanpa diketahui Diana sang Nyonya majikan.

Maka pelan tapi pasti elektabilitas Sumilah pun mulai merayap naik dimata Yuwono, dari 10 % naik lagi jadi 30 %, dan sampai akhirnya tembus ke angka 58 %. Apalagi hubungan anak-anak Yuwono dengan Sumilah kian hari jauh lebih akrab ketimbang dengan ibunya sendiri. Maklum Diana kebanyakan arisan, nyalon dan fitness bak selebritis di TV. Maka pengasuhan anak-anak pun dipercayakan sepenuhnya kepada Sumilah juga. Praktis elektabilitas Diana selaku istri dimata Yuwono terus menurun sampai tinggal 25 %, sementara 17 persen abstain. Yang 17 % itu umumnya para tetangga sendiri.

Karena akhir-akhir ini Yuwono makin susah diatur istri, Diana pun menggugat cerai ke Pengadilan Agama. Maksudnya untuk menggertak suaminya agar bisa diatur-atur lagi. Ternyata Yuwono bukannya takut, malah kegirangan bukan main. Sebab ketika vonis hakim jatuh, sama sekali Yuwono tidak menyesal. Itu artinya elektabilitas Diana sudah nol % dimata Yuwono. Dikiranya Yuwono bakal lebih berat kepadanya dan anak-anak, tetapi sebaliknya malah lung ra owel (Ikhlas lahir bathin) dengan perceraian yang dijalani.

“Saat ini saya sudah nikah siri sama Sumilah, dia sudah kadung hamil jadi harus saya tanggung jawab. Biarlah anak-anak ikut saya saja ketimbang terlantar bersama ibunya,” kata Yuwono saat ditanya tetangga ihwal masa depannya.

Dan benar saja, meski Diana menang mendapat jatah gono gini mobil dan rumah. Yuwono tak mempermasahkan. Toh kelak bisa beli lagi, wong dia yang punya penghasilan kok. Maka sekarang bersama Sumilah memboyong anak-anaknya Diana ke rumah baru yang dibeli secara kredit. Dan Diana tinggal sendirian dirumah yang lama.

Diana salah perhitungan. Maunya bikin kejutan, justru dia yang terkejut setengah mati. Dia baru ingat, dua bulan lalu Sumilah pamitan dan menyatakan mundur dari rumahnya. Diana sama sekali tidak keberatan, karena dikiranya mau merawat orangtua di Tepus, eh nggak tahunya malah merebut suaminya.

Yaah nasi sudah jadi bubur, maunya menggertak berujung penyesalan.

Gaib Wisnu Prasetya_ig


SUPPORTED BY :
INFO GUNUNGKIDUL BISNIS
TANAH DIJUAL


● Tanah pekarangan
Luas tanah : 1002 M2
Luas Bangunan (Rumah ) : 1002 m2
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik.
Harga 1,3 jt/m2

● Tanah Pekarangan
Luas tanah : 94 m2, Lebar 7m X13,5 m
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik
Harga 155 jt

TLP/WA : 0813-2747-5010

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE