• Sabtu, 22 September 2018
  • LOGIN
Sebelum Luweng Ditemukan, Terdengar Suara Gemuruh

Sebelum Luweng Ditemukan, Terdengar Suara Gemuruh

Infogunungkidul, SEMANU, Rabu Wage, - Suara gemuruh menandai awal terbentuknya Luweng Anyar yang ada di perbatasan Padukuhan Serpeng, dengan Dengok, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Usut punya usut, suara gemuruh itu berasah dari gemerasaknya pepohonan ukuran besar terseret masuk ke dalam luweng.

 

Saat ditengok pagi harinya, lebar Luweng Blimbing yang awalnya hanya puluhan meter telah berubah puluhan kali lipat. Air menggenang hingga tak terlihat berapa kedalamannya.

Hal ini diungkapkan Suratin yang saat ini bersama karang taruna setempat mengelola Luweng Anyar menjadi obyek wisata baru.

“Hujan lebat 2 hari 2 malam dengan intensitas tinggi mengakibatkan sungai-sungai disekitar sini meluap dan menuju satu titik disini. Hektaran luas lahan disekitar Luweng Anyar ini terendam hingga pepohonan tinggi pun tak terlihat,” kata Suratin mengawali ceritanya.

Hingga enam malam berturut-turut lahan tersebut terendam air dengan ketinggian puluhan meter. Selama itu pula warga sering mendengar suara gemuruh dari pepohonan yang tumbang atau terseret ke dasar luweng. Ketika air surut menyisakan genangan dan mulut luweng pun berubah lebih lebar dan berdiameter ratusan meter.

“Genangan air itulah yang kemudian berwarna kehijauan dan seperti yang ada di danau alami. Dan hal ini menjadi magnet bagi orang jauh untuk datang berkunjung ke Luweng Anyar ini,” lanjutnya.

Menurut Darmo Sagi 84, sesepuh Padukuhan Serpeng, sebenarnya keberadaan Luweng Anyar itu sudah lama sekali. Dia meyakini bahwa di dasar luweng ada goa sumber air yang sangat besar.

“Dulu namanya Luweng Blimbing, tak terlalu lebar namun sangat dalam. Bahkan saking dalamnya tidak nampak dasarnya jika dilihat dari bibir luweng,” terangnya.

Dalam dasar luweng sebelah barat, terdapat mulut goa selebar 5 meter dengan tinggi mencapai 6 meter.

“Tidak ada satu manusia pun yang berani memasukinya karena sangat dalam dan gelap dan hanya terdengar gemrojok air yang sangat deras,” lanjut Darmo Sagi.

Darmo Sagi memperkirakan suara air itu adalah aliran sungai bawah tanah menuju ke Pantai Selatan. Pada tahun 1960-an, pernah kejadian seorang pencari rumput terjatuh ke dalam goa tersebut.

“Tak seorangpun ada yang berani mengambil jasadnya ke dalam goa. Bahkan keluarganya sampai mengeluarkan sayembara barangsiapa bisa mengambil jasad pencari rumput itu akan diberi seekor sapi. Tetap saja tidak ada yang berani,” sambungnya.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan luweng itu tak terlalu dihiraukan orang. Warga masih beraktivitas mencari rumput atau menggembala ternak disekitar luweng. Namun tahun 1980-an, akibat proses alami dasar luweng yang awalnya gelap gulita tak terlihat mulai nampak dilihat dari atas. Itupun belum ada seorang pun berani turun ke dasar luweng yang dianggap menakutkan tersebut.

“Pada tahun 80-an itulah ada seekor anak sapi terjerumus ke dalam luweng. Akhirnya ada pemuda yang berani masuk tanpa alat sama sekali untuk menyelamatkan anak sapi. Itulah manusia pertama yang berani masuk luweng ini,” cerita Darmo.

Tahun demi tahun berganti sehingga semakin lama luweng pun semakin dangkal karena faktor alam. Goa di dasar luweng pun sudah tertimbun tanah hingga tak terlihat lagi, mata air dan gemuruh sungai bawah tanah pun sudah hilang entah kemana. Barulah saat siklon tropis Cempaka mengamuk akhir November 2017 mengungkap cerita dibalik Luweng Anyar yang saat ini menjadi viral lantaran menjadi obyek wisata baru.

Gaib Wisnu Prasetya_ig      


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE