• Sabtu, 22 September 2018
  • LOGIN
Pendita Durna Van Gunungkidul, Digerebek Warga Saat Apeli ABG

Pendita Durna Van Gunungkidul, Digerebek Warga Saat Apeli ABG

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Andaikan  sebuah wayang, Mbah Kadar, 62 (bukan nama sebenarnya), ini dapukannya paling cocok jadi Pendita Durna. Sama-sama guru, sama-sama pula doyan perempuan. Bedanya, Durna wayang selama ini kondang sebagai gurunya Pandawa-Kurawa, “Durna” dari dari Kecamatan Nglipar tersebut hanya kondang sebagai guru tari jathilan kelas kampung.

Tokoh wayang Pendita Durna memang terkenal mata keranjang. Setiap perempuan cantik maunya dikawini. Dari Setyaboma, Rukmini, Srikandi, dirayu agar mau jadi Ketua Darma Wanita Sokalima. Tapi semuanya gagal. Setyaboma dan Rukmini diambil Kresna, dan Srikandi dipersunting Harjuna murid sendiri. Dus karena itu, selama hidup baru sekali Durna bergaul dan menggauli wanita, yakni Dewi Wilutama, itu pun saat sang bidadari berwujud kuda yang bisa terbang, seperti merk cat saja yo ?

Ini lagi kelakuan orang yang mirip-mirip pendita Durna. Namanya Mbah Kadar, warga Kecamatan Nglipar. Kakek yang telah memiliki cucu ini berprofesi sebagai petani, tukang gergaji batu putih yang nyambi guru seni tari jathilan, sebagaimana Pendita Durna di wayang kulit. Cuma bedanya, Durna hanya sekali “mbelah duren” hingga lahirnya Raden Aswatama, sedangkan guru jathilan Mbah Kadar baru “penjajagan” dengan Anggun 17 si ABG tetangga sudah kena gerebek. Warga yang tak terima kelakuan guru jathilan cabul ini hampir saja menggebuki Mbah Kadar.

Kakek-kakek genit sekalipun, biasanya memilih lawan yang STNK, wanita berumur 40 tahun ke atas. Jika perempuan usia 17 tahun ditelateni juga, itu kan sama saja menggauli cucu sendiri. Apa tega dan bisa nihil? Tapi rupanya Mbah Kadar ini termasuk kategori aksioma alias perkecualian. Biar lebih pantas dari cucunya, gliyak-gliyak (pelan-pelan) dan anaknya mau, dilakoni juga. Mbah Kadar tidak faham jika umur 17 tahun itu masih tergolong bocah dan dilindungi Undang-Undang Perlindungan Anak.

Asmara kakek yang menggoyang desa itu bermula dari ketidak berdayaan ekonomi yang menimpa Anggun, perawan SMK yang sedang mekar-mekarnya. Anggun adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak beberapa tahun silam bapaknya meninggal dunia. Tak pelak hal ini membuat kehidupan keluarganya pontang-panting tanpa sumber nafkah yang jelas. Apalagi anak tertua ternyata menderita penyakit keterbelakangan mental hingga tak bisa disuruh mencari nafkah.

Hanya Yatmi 42, ibunya Anggun dan Darmini 21, kakaknya, yang kemudian terpaksa mencari pekerjaan serabutan ke kota lain. Yatmi buruh sebagai PRT di Jogja, demikian juga Darmini juga bekerja di kabupaten lain. Praktis tinggallah di rumah Anggun bersama kakaknya yang agak kenthir dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP.

Kebetulan di dusunnya, ada kelompok jathilan lumayan tenar. Mbah Kadar, guru jathilan yang masih tetangga sendiri sering melatih dan mengajak Anggun mentas jathilan kemana-mana. Kebetulan kelompok jathilan besutan Mbah Kadar lumayan laris mentas ke berbagai tempat. Kadang ditanggap siang, kadangkala juga pentas hingga larut malam.

Dan tahu sendirilah perawan usia 17-an, sedang mekar-mekarnya dan enak dikremus bak mangga mengkal. Setiap melihat goyangan Anggun diatas kuda kepang, mata Mbah Kadar melotot tak berkedip, jakun turun naik dan nafas memburu terbuai nafsu. Setan pun langsung mengipasi dengan semangat membara.

“Kremus wae Mbah….Wenehi duit seket utawa satus ewu rupiah wis mesthi geleme. Nengomahe kan ora ketunggon wong tuwa to ?” bisik setan yang diamini Mbah Kadar.

Dan apa yang diprediksi Mbah Kadar tak meleset, Anggun memang tak pernah punya uang banyak lantaran keterbatasan ekonomi keluarganya. Dengan iming-iming uang Rp 50.000,- dan 2 bungkus nasi saja, Anggun sudah bersedia menerima kedatangan Mbah Kadar berkunjung malam ke rumahnya.

Jadilah beberapa malam yang lalu saat suasana kampung sepi, Mbah Kadar mengendap-endap masuk ke rumah Anggun. Tan kocapo, kedatangan Mbah Kadar ini termonitor pemuda yang bergegas melapor ke Pak RT. Dalam selang waktu tak terlalu lama berdatangan warga ke rumah yang dicurigai. Saat diintip, Nampak jelas Anggun sedang menuju kamar tidur dan tak berselang lama disusul Mbah Kadar. Didobraklah rumah tersebut oleh Pak RT yang diiringi tokoh masyarakat setempat.

 “Lho kurang aja Mbah Kadar, agaknya njaluk modar (minta mati)…. Mau minggat kemana kamu ?” maki warga saat menyaksikan Mbah Kadar hendak melarikan diri.

Yang terjadi selanjutnya sungguh tragis. Mbah Kadar pontang-panting menyiapkan jawaban pembenar ketika disidang Pak RT. Berbagai alasan kunjungan yang dilakukan ke rumah Anggun tidak bisa diterima akal sehat warga. Anggun pun tak kalah malu, masak ABG SMK kena gerebek berduaan dengan kakek-kakek ? Setelah didesak hingga berjam-jam bahkan menjelang dinihari, akhirnya Anggun mengaku.

“Kulo disukani duit seket ewu, sego rong wungkus lan opahe purun di sun. Niki wau pun di sun kaping kalih. Ning sumpah, dereng dinapak-napakke,” kelit Anggun polos.

Wooo, kurangajar Mbah Kadar, sudah tua tidak mikir punya anak cucu malah penthalitan ngapeli ABG. Atas kesalahannya Mbah Kadar kena denda bayar batu 10 kubik untuk pembangunan dusun.

Gaplek mung pringkilan, wis tuwek pethakilan.  

Gaib Wisnu Prasetya_ig


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE