• Selasa, 16 Januari 2018
  • LOGIN
  • Berlangganan Berita Terbaru invite BBM DCA2ADE9/ DD30B86C/ WA. 081904213283. Infogunungkidul, menerima tulisan/ berita opini dari pembaca sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik, tidak mengandung unsur sentimen SARA dan Provokatif terhadap kelompok tertentu. Kirimkan opini ke email: redaksi@infogunungkidul.com - "HYPNO THERAPY" Mengobati berbagai macam penyakit. Buka praktek hari: Rabu & Sabtu Jam: 08.00-16.00 Alamat praktek: Jl. Kyai Legi Kepek Wonosari Gunungkidul. Konsultasi & Pendaftaran hub. Lucy 08997722517.

Benarkah Hari Ibu Sudah Berpihak Kepada Kaum Perempuan ?

Benarkah Hari Ibu Sudah Berpihak Kepada Kaum Perempuan ?

Infogunungkidul, Jumaat Legi, - Tanggal 22 Desember 2017, merupakan hari dimana kita Memperingati Hari Ibu. Sejarah mencatat, Hari Ibu adalah momen historis yang ditandai dengan kebangkitan wanita Indonesia awal abad ke-20, sekitar 86 tahun lalu.

Kala itu, 22-25 Desember 1928, sejumlah aktivis wanita dari berbagai daerah dan organisasi berkumpul di Pendopo Dalem Jayadipuran, yang sekarang menjadi Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Mereka yang berkumpul atas nama kesadaran melawan kolonialisme dan praksis pemberdayaan itu menyelenggarakan Kongres Perempuan yang pertama.

Kongres Perempuan Indonesia ini diikuti oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Ada sekitar 1000 orang yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Diantaranya para tokoh perwakilan dari organisasi-organisasi terkemuka di Hindia Belanda, antara lain perkumpulan Boedi Oetomo, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah, dan Jong Islamiten Bond. Serta perwakilan dari organiasi perempuan antara lain Wanita Utomo, Aisyiah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanita Taman Siswa, Sarekat Islam Wanita, dan Jong Islamiten Bond Dames Afdeling.

Perbincangan mengenai gender memang tidak ada habisnya dari dulu hingga saat ini. Mulai dari konstruksi sosial yang mengakar hingga berbagai gerakan feminis yang dinilai tidak sesuai dengan budaya bangsa adalah dua contoh isu yang cukup memancing perdebatan. Terlepas dari berbagai keistimewaan yang diperoleh laki-laki dari masyarakat patriarkis, adalah sewajarnya, semaklum-maklumnya ketika perempuan di negeri ini terkadang merasa iri dengan lawan jenisnya. 

Kita mulai dari stereotipe. Misal, jika laki-laki adalah pihak yang salah maka perempuan adalah pihak yang jauh lebih salah.

Salah satu mitos humor paling bias gender adalah “pasal satu perempuan tidak pernah salah”. Kenyataan, berbagai fenomena yang ada justru menunjukkan hal sebaliknya. Masyarakat sering kali menempatkan laki-laki sebagai korban, bukan pelaku. Terutama ketika menyangkut berbagai hal yang melibatkan interaksi personal antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki lebih terlindungi dari sanksi sosial.

Ketika terjadi kasus pemerkosaan perempuan oleh laki-laki, sering kali perempuan dianggap sebagai pihak yang “memancing” terjadinya kekerasan tersebut. Entah karena bajunya yang dinilai terlalu seksi atau kecerobohannya berjalan sendirian di tempat sepi. Perempuan menjadi pelaku (yang memancing) dan laki-laki sebagai korban (yang terpancing).  

Demikian juga dalam kasus pelakor (red-perebut laki orang). Komentar klasik yang muncul kemudian adalah, “Kucing mana yang tidak mau dikasih daging ?” Atau berbagai komentar kontemporer dukungan netizen kepada Shafa Aliya (putri Faisal Haris) ketika melabrak Jennifer Dunn (Jedun) di depan umum.

“Wadaaaaw. Gue jadi anaknya sih, gue injek palanya.”

Jedun adalah pusat kesalahan dan Faisal adalah selaku pihak korban. Faisal hanyalah laki-laki (yang direbut). Laki-laki yang diposisikan sebagai pihak pasif, tidak memiliki kuasa menolak, dan tidak punya pilihan selain mengikuti perempuan (yang merebut). Mitos lainnya adalah, jika terlahir sebagai laki-laki dia bebas melakukan apapun.

Untuk kamu yang perempuan, sekali dalam rentan usiamu pasti kamu pernah ditegur, atau minimal mendengar kawan perempuanmu ditegur karena kamar yang berantakan.

Katanya, “Kamar cewek kok berantakan seperti kamar cowok!”

Sadar ataupun tidak, didikan orang tua dan masyarakat sejak dini, menuntut perempuan untuk lebih mahir dalam mengerjakan pekerjaan rumah termasuk merapikan kamar dibandingkan laki-laki. Hal ini menjadikan laki-laki bersikap “terima beres” terkait tugas rumah tangga. Demikian juga dengan industri iklan yang sering kali mengkomuditaskan perempuan. Menjadikan kesempurnaan tampilan fisik menjadi kewajiban perempuan.Perempuan harus tampil cantik, mulus, dan wangi sedangkan laki-laki tidak.

Pernahkah kamu menemukan orang-orang di sekitarmu protes dengan laki-laki yang ke luar rumah tanpa menggunakan bedak atau tabir surya ? Bahkan berangkat sekolah, kuliah, kerja tanpa mandi ? Coba bandingkan jika perempuan yang melakukan hal itu. Entah bagaimana awal mula korelasi antara kerapian kamar maupun tampilan fisik tersebut mulai terikat pada jenis kelamin tertentu. Woles, perempuan tidak.

Selain bebas berantakan, para cowok juga bisa melakukan hal-hal istimewa yang tidak mungkin dilakukan perempuan.  Salah satunya adalah kencing di dalam bus umum tanpa toilet. Bagi pengguna moda transportasi publik antar kota yang jaraknya relatif dekat, tentu kamu paham betapa tidak enaknya menahan tumpukan urine yang sudah minta dikeluarkan.

Duduk tidak tenang, suhu badan mendadak meningkat, dan pemandangan indah pun seolah tak berarti. Bingung dan panik karena bus berjalan terus dan sangat jarang berhenti bahkan untuk sekadar mengisi bensin. Belum lagi kalau kernet dan sopirnya tak murah senyum, rasanya ragu untuk meminta berhenti dan menunaikan panggilan alam itu.

Dalam kondisi seperti ini, perempuan hanya bisa bersabar menahan sekuat tenaga hingga keringat bermunculan di dahi. Bagaimana dengan laki-laki? Laki-laki cenderung lebih woles, cukup mengeluarkan botol kemasan yang kosong dan izin samping kanan-kiri maka beres sudah perkara. Perempuan mau mencoba hal yang sama ? Hm, pikir dulu deh kalau enggak mau mendadak kamu diberhentikan di depan RSJ terdekat.

Fenomena lain adalah saat suami dan istri sama-sama bekerja. Ini adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Tuntutan ekonomi yang semakin tinggi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi alasan utama bagi banyak perempuan memilih bekerja di luar rumah. Bahkan keluarnya perempuan dari batas ranah domestik sering kali sudah dianggap sebagai kebutuhan. Banyak perempuan menyambut terbuka kebebasan ini meskipun sejatinya justru menambah beban kerja baginya.

Menurutmu, apa yang akan dilakukan para istri/perempuan selepas bekerja ? Kalau dibuat kronologis umumnya, kira-kira akan seperti ini: mengucapkan salam – (jika sudah memiliki anak) anak berlari memeluk – merangkul dan mengajak anak berbincang sembari meletakkan bawaan – bersih-bersih diri – memenuhi keinginan anak untuk mengajarkan pekerjaan sekolahnya – mengajak anak merapikan buku dan memasukkannya ke tas sekolah – mengantarkan anak tidur – membuatkan teh/kopi untuk suami yang sedang bersantai – mengobrol dengan suami hingga suami pamit tidur – memasukkan cucian di mesin cuci – beberes rumah – memastikan pagar, pintu, dan cendela terkunci – masuk kamar dan tidur untuk bangun 1-1,5 jam lebih awal dari anggota keluarga lainnya untuk menyiapkan sarapan dan menjemur pakaian cucian semalam.

Bagaimana dengan para suami dan bapak? Apa yang dilakukan selepas bekerja di luar rumah? Bersantai, beristirahat, atau berkumpul dengan teman? Untuk laki-laki yang hidup di Indonesia, berbahagialah dan untuk perempuan Indonesia, banggalah karena kalian adalah makhluk yang super istimewa.

Penulis: Gaib Wisnu Prasetya

INFO BISNIS

1. AHASS 693 WONOSARI HONDA SERVICE

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari Telp. (0274) 392266, HP. 087838272255

Melayani : Servis Gratis, Servis Ringan, Servis Berat, Press Porok, Press Body, Penjualan Spare Part Lengkap, Pemesanan Sparepart, Booking Servis dan Layanan Servis Antar Jemput. PROMO JANUARI !!! Service lengkap berhadiah Plas Chamois/Discount 15% Syarat ketentuan berlaku (Selama persediaan masih ada)

2. ESTETHIC SALON & BODY SPA

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari HP.081802711531, WA.081227706969

Melayani : Perawatan Rambut, Perawatan Badan (Free Totok Wajah) Khusus Wanita, Perawatan Wajah (Standar Skincare Tarif Pelajar),Konsultasi Kulit dan Healthy, Pengencangan Wajah, Tiruskan dan Rampingkan Pipi, Wajah, Leher, Menghilangkan Kantung Mata Tanpa Operasi

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE