• Minggu, 22 Juli 2018
  • LOGIN
BERGURU PADA SEMANGKOK BAKSO DAN SECANGKIR KOPI

BERGURU PADA SEMANGKOK BAKSO DAN SECANGKIR KOPI

Infogunungkidul, WONOSARI, Selasa Pahing, -Wisatawan yang melancong ke Gunungkidul pada malam tahun baru 2018 terbagi menjadi 4 kategori, domestik/lokal, regional, nasional borjuis, dan wisatawan manca negara. Daya beli mereka terhadap barang-barang konsumsi (kuliner) di berbagai tempat hiburan berbeda-beda. Khusus wisatawan domestik lokal, dan regional, daya beli mereka atas semangkok bakso dan secangkir kopi terpantau kedodoran.

 

Wisatawan lokal dan regional dengan duit pas-pasan selalu terkaget-kaget ketika makan bakso semangkok harus merogoh kocek Rp 50.000,00. Ini potret kecil dari warga biasa (rakyat jelata), yang realitasnya bisa mencapai 90 % lebih.

 

Mereka  tidak siap membayar belanja konsumsi kuliner pada sektor rekreasi yang secara tiba-tiba melambung setinggi langit.

 

Seorang pelancong super lokal duduk di sebuah warung. Dia memesan  semangkok bakso dan kopi hitam panas. Usai makan beranjak menuju kasir. Ambil selembar uang ratusan ribu, terima kembalian Rp 25.000,00.

 

“Busyet mahal amat, mentang-metang malam tahun baru,” ujar turis domestik menggerutu.

 

Dia sangat tidak memahami bahwa pada momentum menunggu tahun baru 2018, di berbagai tempat hiburan terjadi lonjakan tarif jajanan, mengikuti hukum besi ekonomi.

 

Turis kategori ini tetap saja  membayar tetapi bercampur kesal dan sesal. Harap maklum Upah Minimum Regional atau Upah Minimum Kabupaten mereka berada di bawah Rp 1,5 juta per bulan.

 

Berbeda jauh dengan daya beli wisatawan nasional kelas borjuis atau wisatawan manca negara. Melancong, bagi mereka merupakan bagian dari kebutuhan yang memang dipersiapkan secara matang.

 

Berapapun biaya yang harus dikeluarkan tidak masalah. Bakso semangkok Rp 250.000,00 pasti terbayar, bahkan pemilik warung kadang masih memperoleh tip (tambahan bonus).

 

Pemilik warung kuliner salah? Tentu saja tidak. Sebagai penyangga ekonomi kategori UKM, malam tahun baru adalah waktu yang tepat untuk menambal kepedihan.

 

Wisatawan domestik yang dompetnya pas-pasan, seyogyanya tidak meniru gaya belanja wisatawan borjuis dan manca negara. Belanja pendidikan mestinya menjadi pilihan dan tidak memprioritaskan belanja rekreasi

 

Penulis: Bambang Wahyu Widayadi


SUPPORTED BY :
INFO GUNUNGKIDUL BISNIS
TANAH DIJUAL


● Tanah pekarangan
Luas tanah : 1002 M2
Luas Bangunan (Rumah ) : 1002 m2
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik.
Harga 1,3 jt/m2

● Tanah Pekarangan
Luas tanah : 94 m2, Lebar 7m X13,5 m
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik
Harga 155 jt

TLP/WA : 0813-2747-5010

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE