• Selasa, 18 September 2018
  • LOGIN
Suami Jarang Pulang, Istri Ganti Mitra Ranjang

Suami Jarang Pulang, Istri Ganti Mitra Ranjang

Infogunungkidul, Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Meski bulan parpol ternyata Titin, 30, suka juga gonta-ganti mitra koalisi dari pendukung Prabowo mainded balik haluan ke Jokowi. Karena suaminya yang sopir truk jarang pulang, dia gantian berkoalisi dengan sopir travel yang suka kasih “mahar” lumayan.  Karena suami terlalu cemburu, rumahtangga jadi sering cekcok. Istrinya, sempat purik tinggalkan rumah, akhirnya Wardono 35, memilih bercerai saja. Bini cantik makan hati, katanya.

Ibarat partai, sopir truk itu partai gurem dan sopir travel itu partai menengah. Maka istri bila terpaksa harus memilih, pasti milih punya suami sopir travel ketimbang sopir truk. Sebab sopir travel itu selain tidak begitu berkeringat, stok tenaganya juga masih banyak, sehingga istri di rumah masih kebagian untuk “narik” lagi di ranjang. Beda dengan sopir truk, karena sudah diforsir di atas roda, di atas ranjang tak bisa berbuat apa-apa. Bau keringat pun jelas beda, sopir truk keringatnya sangat apek khas aroma solar. Nah sopir travel wajib pakai parfum dan mobilnya wangi plus full AC.

Awalnya Titin berbahagia bersuamikan Widodo yang sopir truk. Karena tarikan pasir dan batu yang dilakukan diatas truk hanya berjarak dekat, dia selalu pulang dan di rumah setiap malam. Pasokan benggol dan bonggol untuk istri ajek terjamin kentelnya.

Tapi ketika dia teken kontrak dengan perusahaan jasa pengiriman barang Antar Kota Antar Provinsi sampai ke Jakarta, Bali, bahkan Sumatera, Wardono lebih banyak di atas roda truk ketimbang di atas istri. Hal ini menyebabkan suami jarang di rumah. Paling cepet seminggu sekali dia baru bisa ketemu bini. Itupun sudah capek sekali, sehingga Wardono tak kepikiran lagi memberikan nafkah batin buat ibunya anak-anak seperti dulu lagi.

Wardono asal Piyungan, Bantul sebetulnya termasuk lelaki mujur. Wajahnya pas-pasan, cenderung standar lantaran belum pakai velg racing, power steering dan lainnya tapi berhasil menikahi Titin, warga Wonosari, Gunungkidul yang secantik bidadari baru blusukan ke bumi. Ibarat kata Titin jelita bak Nella Kharisma dinikahi Wardono yang buthekkaya air peceren itu mirip sego pulen dipangan garangan. Teman-temannya pun suka bingung apa resepnya bisa berbini cantik itu.

Jawab Wardono sepele saja, “Yang penting kamu santun, seiman dan Okeh ngOceh !”

Tapi apakah karena bini cantik itu menjadikan Wardono bahagia lahir batin? Ternyata tidak. Dari kepuasan lahir memang terpenuhi, karena ibarat makan selalu dapat nasi putih menul-menul yang tersaji di piring kembang. Maka tak mengherankan, waktu pengantin baru dulu gasnya digeber terus! Itu duluuuuu.........

Tapi apa yang nampak dimata umum jauh dengan kenyataan, batin Wardono ternyata sangat menderita. Pasalnya, setiap ngajak bini jalan-jalan keluar rumah, di jalan istrinya selalu dilirak-lirik lelaki. Rasanya dia ingin nyuleg mata lelaki yang jelalatan ngelirik istrinya itu. Tapi apa alasannya? Wong dia melirik sampai jereng pun juga pakai mata sendiri, bukan pinjam punya orang.

Yang suka bikin Wardono tambah sebel, Titin terlalu ramah sama orang. Gampang senyum, tertawa, pokoknya selalu ceria di depan publik. Istilah Jawa istrinya kelewat menthelpada pria lain. Wardono sering mengingatkan, jangan terlalu memberi hati pada lelaki. Tapi alasan istrinya, itulah bagian dari kiat pergaulan dan bermasyarakat.

“Pergaulan, pergaulan…., lama-lama kamu digauli baru rasa!” kata Wardono kesal sekali.

Nah sebulan dua bulan sejak Wardono teken kontrak nyopir, Titin masih bisa menerima kondisi suaminya. Tapi setelah berbulan-bulan jadi bini jablai alias jarang dibelai, tak tahan juga. Di kala suami bawa barang ke Bali, diam-diam dia pacaran dengan sopir travel yang juga teman SMP-nya dulu.

Atmono yang pada dasarnya duda tanpa anak memang sudah lama ngincer Titin jadi pacarnya. Maklum dulu waktu sekolah sudah jatuh cintong sama Titin, sayangnya kalah cepet sama Wardono sang sopir truk. Akibatnya buah mangga incaran ludes disikat codot.

Tahu Titin sekarang jablai, Atmono lalu pedekate dan diterima tangan terbuka. Keduanya pun lalu suka ber-“koalisi” dalam hotel. Sebagai mitra koalisi, Atmono, 30, sangat tangguh dan mengerti akan kesulitan Titin, sehingga setiap habis berlaga dia sering memberi mahar yang lumayan, meski tanpa rekomendasi dari sang pemilik saham utama.

Di sinilah bedanya Pilkada dengan Pilselingkuhan! Bila Pilkada kasih mahar dulu baru diusung, pilselingkuhan mahar itu diberikan setelah diusung ke atas ranjang hotel. Dan inilah persamaan antara Pilkada dan Pilselingkuhan tersebut, sama-sama ada coblosan di sana !

Celakanya, setelah sering “coblosan” dengan Atmono yang sopir travel, Titin jadi tak perhatian lagi sama suami. Menyiapkan makan minum saat suami pulang narik luar kota saja ogah, apa lagi melayani di ranjang yang datangnya hanya insidentil itu. Setiap hendak dikelonin suami, Titin justru menghindar dengan alasan keringat suami bau apek dan bau mulut beraroma tembakau.

Tentu saja Wardono curiga, kenapa istrinya sekarang berubah adat dan tabiat ? Cemburunya langsung kumat penuh dengan syak wasangka. Menurut informasi tetangga, selama suami tak di rumah Titin suka pergi bersama sopir travel. Mungkin dia itu memang PIL-nya.

“Tapi ini sekedar dugaan lho Mas. Karena tak ada dua alat bukti cukup, takutnya saya dituntut pakai pengacara lagi.” Kata tetangga sangat berhati-hati.

Maklum, pengacara sekarang suka nakut-nakuti orang, sedikit-sedikit dituntut, sedikit-sedikit dilaporkan ke polisi. Orang wartawan salah ketik profesi biduan saja langsung main lapor polisi meski tak menggunakan hak jawab dan hak koreksi kok. Apalagi yang tetangga kasak kusuk, salah-salah dituduh menyebar ujaran kebencian lagi.

Berdasarkan informasi itu Wardono lalu cuti nyopir, untuk memata-matai bini. Ternyata betul, di terminal Giwangan dia melihat Titin makan di warung bersama Atmono. Yang bikin Wardono meledak, Titin meladeni sopir travel itu makan dengan mesranya.

“Makannya dihabisi lho Mas, nanti ayamnya mati.” Kata Titin seperti nenek-nenek pada cucunya.

Jika tak ingat di tempat umum, Wardono mau hajar Titin-Atmono sekalian. Tapi dia masih ingat hukum, sehingga cukup dia pulang dan menunggu istrinya pulang. Setelah Titin pulang, ributlah mereka hingga akhirnya si istri pilih purik ke rumah orang tuanya. Itu bukan hanya sehari dua hari, tapi berminggu-minggu. Tentu saja sebagai suami Wardono jadi kelimpungan, karena ibarat Vespa lama tak “ngetap olie”.

Pernah disusul ke rumah mertua di Wonosari, tapi Titin tetap tak mau pulang ke rumah suami. Yakin istrinya sudah tak mau diajak baikan, Wardono langsung mendatangi kantor Pengadilan Agama untuk menggugat cerai.

“Nggak kuwat aku, nggak kuwat. Pokoknya cerai.” Kata Wardono pada petugas.

Kalau nggak kuwat ya ditaruh, gitu saja kok repot! Habis cerai, besok kawin sama Limbuk saja, pasti nggak ada yang nglirik.

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE