• Senin, 20 November 2017
  • LOGIN
  • Berlangganan Berita Terbaru invite BBM D919C28D/ DAEC06F2/ WA. 081904213283. Infogunungkidul, menerima tulisan/ berita opini dari pembaca sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik, tidak mengandung unsur sentimen SARA dan Provokatif terhadap kelompok tertentu. Kirimkan opini ke email: redaksi@infogunungkidul.com - "HYPNO THERAPY" Mengobati berbagai macam penyakit. Buka praktek hari: Rabu & Sabtu Jam: 08.00-16.00 Alamat praktek: Jl. Kyai Legi Kepek Wonosari Gunungkidul. Konsultasi & Pendaftaran hub. Lucy 08997722517.

Berita Terbaru
Gundul Pacul, Tembang Halus yang Menyengat

Gundul Pacul, Tembang Halus yang Menyengat

Infogunungkidul, WONOSARI, Jumat KliwonSiswa sekolah dasar meliputi Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur di era tahun sebelum 1990-an, hampir dipastikan mengenal tembang Gundul-Gundul Pacul (GGP). Mereka bisa menyanyikannya dengan lancar. Di jenjang Sekolah Dasar, lagu ini seperti menjadi lagu “wajib”. Setiap siswa harus mampu menyanyikannya. Itu dahulu,  sekarang, sepertinya tak banyak yang memahami makna dan filosofi lagu yang begitu populer ini. Meski di setiap buku lagu-lagu daerah nama R. C. Hardjosubroto tercantum sebagai pencipta lagu Gundul-Gundul Pacul, namun konon lagu ini diciptakan pada tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga.

Orang-orang tua masa lalu, paham benar makna dan filosofi GGP. Tembang ini diciptakan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah penyebaran agama Islam sekaligus memberi wejangan kepada para pemimpin agar tidak salah langkah dalam mengemban amanah.

Pemimpin itu adalah semua orang yang diberi amanah untuk memimpin. Seorang kepala keluarga adalah pemimpin di ruang lingkup paling kecil. Sejak Ketua RT, RW, Dukuh, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, Anggota DPR/DPRD, Komandan di lingkungan TNI/Polri semuanya adalah sosok pemimpin yang harus selalu mengingat  falsafah GGP.

 Gundul gundul pacul-cul, gembelengan

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Gundul, seperti yang kita tahu, adalah kepala yang rambutnya dicukur habis. Kepala adalah lambang kehormatan atau kemuliaan seseorang, sedangkan rambut adalah mahkota, lambang keindahan kepala. Gundul bisa dimaknai kehormatan tanpa mahkota.

Sedangkan pacul sebagai salah satu alat pertanian yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Ini melambangkan derajat kawula rendah yang kebanyakan adalah petani. Jadi, GGP itu artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan rakyat.

Orang Jawa memiliki filosofi tentang pacul, pacul itu arti harfiahnya adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Maksudnya, kemuliaan seseorang akan sangat tergantung pada empat hal.

Penjelasannya, bagaimana seseorang harus menggunakan mata, hidung, telinga, juga mulut.

Mata  seharusnya digunakan untuk melihat kesulitan rakyat, ketimpangan yang ada di kanan kirinya.

Telinga dipergunakan untuk mendengar nasihat, keluh kesah dari kawula alit hingga kritikan demi perbaikan selama menjadi pemimpin.

Hidung digunakan untuk mencium segala aroma, mulai dari wewangian kebaikan maupun hal-hal busuk yang ada di kanan kiri sang pemimpin.

Dan jika sudah melihat, mendengar dan mencium segala yang ada disekitarnya, saatnya mulut digunakan untuk berkata-kata adil. Sebab seorang pemimpin dalam filsafat Jawa diibaratkan idu geni atau meludah api. Yang artinya semua ucapan sang pemimpin adalah titah bagi bawahannya untuk dilaksanakan dan ditaati.

Sebagai pemimpin haruslah arif bijaksana, idu geni artinya kebijakan yang keluar dari mulutnya jangan sampai membakar atau menyengsarakan rakyat.

Jika, keempat hal tersebut lepas dari sifat-sifat seorang pemimpin maka lepaslah sudah kehormatannya. Jadilah dia pemimpin yang gembelengan yaitu besar kepala, sombong, dan suka bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat, tetapi dia malah menggunakan kekuasaannya sebagai ajang untuk kemuliaan dirinya. Menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia, dan menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya, karena prestasinya, karena dikehendaki rakyat. Dia lupa, bahwa yang namanya derajat, pangkat, jabatan yang di emban itu adalah amanat titipan/sampiran dari Allah SWT kepada manusia agar menciptakan Rahmatan lil ‘alamin.

Selanjutnya  nyunggi nyunggi wakul-kul maksudnya adalah membawa bakul (tempat nasi) di kepala. Wakul  melambangkan kesejahteraan rakyat, kekayaan negara, sumber daya, pajak, dan sebagainya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul di kepalanya. Artinya bahwa kepala yang dia anggap sebagai kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat. Pemilik bakul lebih tinggi kedudukannya dibandingkan pembawa bakul karena ia hanyalah pembantu sang pemilik.

Ibarat senjata, seorang pemimpin diberikan gaman/senjata untuk digunakan sebaik mungkin. Seorang pemimpin bak memegang pedang bermata dua, kalau asal bacok maka habislah segala apa yang ada di muka bumi. Di lingkungan TNI/Polri, seorang Komandan diberikan senjata tongkat komando. Dengan tongkat tersebut seorang komandan bisa memberi perintah, petunjuk kepada anak buahnya. Komandan menudingkan tongkatnya ke kanan, anak buah akan ke kanan, Komandan menuding kiri, anak buah ke kiri. Dan jika salah dalam menggunakan tongkat komandonya, letak kesalahan terbesar bukan pada anggotanya, tetapi pada sang pemegang tongkat.

Sekarang, banyak sekali pemimpin yang masih gembelengan hingga melenggak lenggokkan kepalanya dengan sombong, mereka pun bahkan bermain-main dengan kedudukannya. Kebijakan-kebijakan yang diambil jauh dari amanah Sumpah Jabatan saat dilantik menjadi pejabat. Dia tidak menyadari sebagai pemimpin harus menjaga amanah yang disandangnya. Banyak kebijakan yang diambil demi kepentingan kelompok, golongan bahkan sarat kepentingan pribadi. Dia tidak menciptakan keadilan demi terciptanya rahmatan lil ‘alamin.

Akibat dari semua itu ya wakul ngglimpang segane dadi sak latar, bakul terguling dan nasinya tumpah kemana-mana. Artinya, jika pemimpin gembelengan maka sumber daya yang dimiliki akan tumpah kemana-mana, tidak terdistribusi dengan baik dan kesenjangan muncul dimana-mana. Nasi yang sudah tumpah ke tanah sudah tidak bisa untuk dimakan lagi karena kotor. Kepercayaan rakyat kepadanya sebagai pemimpin musnah sudah. Kehormatan karena pangkat, derajat dan kedudukan yang dimilikinya akan hancur dan nama baiknya pun akan rusak. Jika kehormatan, nama baik sudah rusak, sampai akhir hayatnya pun tidak bisa lagi di perbaiki.

Jadi, Gundul gundul Pacul-cul artinya orang yang keempat inderanya (mata, hidung, telinga, dan mulut) tidak digunakan dengan baik akan mengakibatkan Gembelengan atau sombong. Sedangkan Nyunggi nyunggi wakul-kul artinya siapa yang menjunjung amanah rakyatnya dengan Gembelengan (sombong) maka akhirnya Wakul Ngglimpang atau amanahnya akan jatuh dan tidak bisa dipertahankan sehingga Segane dadi sak latar, kepemimpinannya itu berantakan sia-sia, tidak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.

Luar biasa, tembang karya Sunan Kalijaga menggeltik, mengingatkan para pemimpin agar tidak menyimpang dari ajaran Allah SWT. Daru Punjul Santoso

INFO BISNIS

1. AHASS 693 WONOSARI HONDA SERVICE 

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari

Telp. (0274) 392266, HP. 087838272255

Melayani : Servis Gratis, Servis Ringan, Servis Berat, Press Porok, Press Body, Penjualan Spare Part Lengkap, Pemesanan Sparepart, Booking Servis dan Layanan Servis Antar Jemput. Dapatkan Kalender Cantik......segera & terbatas!!! Ayo ke Ahass 693....Program guru servis lengkap discount 50% dengan membawa copy kartu guru berlaku mulai tgl 21 November s.d 5 Desember. Bengkel Ahass tunggal tidak buka cabang di Wonosari!!!

2. ESTETHIC SALON & BODY SPA

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari HP.081802711531, WA.081227706969

Melayani : Perawatan Rambut, Perawatan Badan (Free Totok Wajah) Khusus Wanita, Perawatan Wajah (Standar Skincare Tarif Pelajar),Konsultasi Kulit dan Healthy.

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE