• Senin, 20 November 2017
  • LOGIN
  • Berlangganan Berita Terbaru invite BBM D919C28D/ DAEC06F2/ WA. 081904213283. Infogunungkidul, menerima tulisan/ berita opini dari pembaca sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik, tidak mengandung unsur sentimen SARA dan Provokatif terhadap kelompok tertentu. Kirimkan opini ke email: redaksi@infogunungkidul.com - "HYPNO THERAPY" Mengobati berbagai macam penyakit. Buka praktek hari: Rabu & Sabtu Jam: 08.00-16.00 Alamat praktek: Jl. Kyai Legi Kepek Wonosari Gunungkidul. Konsultasi & Pendaftaran hub. Lucy 08997722517.

Berita Terbaru
Bagus Damar, Sosok di Balik Adeging Kota Wonosari Bagian II

Bagus Damar, Sosok di Balik Adeging Kota Wonosari Bagian II

Infogunungkidul, WONOSARI, Kamis LegiSetelah berhasil babat Alas Nongko Doyong apakah tugas Bagus Damar yang diberi gelar Ki Wono Pawiro oleh Sultan Hamengkubuwono I selesai? Ternyata tidak, oleh Sri Sultan, Ki Wono Pawiro diberi tugas untuk membuat pasar baru. Pasar itu harus mulai dibangun pada hari Jumat Pon dan harus selesai dibangun dalam waktu selapan dino(35 hari pasaran).

Selain itu, Ki Wono Pawiro diberi tugas  menemukan tempat yang kelak akan dipergunakan sebagai pusat pemerintahan.

“Ciri-ciri tempat yang akan menjadi pusat pemerintahan adalah bila ada sarang burung branjangan putih di puncak pohon nangka. Di situlah tempat yang harus dibangun untuk pusat pemerintahan. Semua disanggupi oleh Ki Wono Pawiro,” papar Harjono, keturunan Ki Demang Wono Pawiro di Piyaman.

Dengan penuh semangat Ki Wono Pawiro kemudian membangun pasar baru di sebelah barat Kali Besole. Pasar yang di bangun bertujuan untuk pusat perekonomian masyarakat. Sebab pusat pemerintahan haruslah dekat dengan pusat perputaran ekonomi rakyat.

Namun di sisi lain, ternyata dahulu di Seneng, daerah kekuasaan Ronggo Puspo Wilogo sudah ada pasar. Karena Ki Wono Pawiro membuat pasar baru,  Ronggo Puspo Wilogo menganggap itu tantangan atau permusuhan.

“Sebab sejak pasar baru tersebut berdiri, ramainya luar biasa. Praktis Pasar Seneng jadi sepi pengunjung, itu yang membuat Ronggo Puspo Wilogo murka,” tandas Harjono.

Merasa tertantang, Ronggo Puspo Wilogo kemudian mengerahkan wadyo bolo untuk membakar pasar baru yang didirikan Ki Wono Pawiro. Dan benar saja, 11 bangunan di sebelah zona barat daya di bakar habis jadi abu.

Hal ini membuat semua punggawa seperti Adipati Wiro Negoro, Panji Harjo Dipuro, Demang Pengalasan hingga Nyi Nitisari mengelus dada. Kalau diperangi terang-terangan, tentu akan terjadi perpecahan dengan Ronggo Puspo Wilogo. Namun jika dibiarkan, maka kerusakan yang dibuat akan semakin menjadi.

Atas perintah Nyi Nitisari, Ki Wono Pawiro di suruh meredam suasana dengan bersemedi di bawah Nongko Doyong untuk meminta petunjuk Nyai Gadung Mlati.

“Eloking lelakon, setelah Ki Wono Pawiro bersemedi dan mengadu Nyai Gadung Mlati. 11 bangunan yang awalnya telah menjadi abu, esok paginya kembali telah berdiri sempurna tanpa ada bekas terbakar,” lanjutnya.

Intrik Cinta, Perseteruan dan Dumadine Desa Piyaman

Ramainya pasar baru di sebelah Pasar Besole menarik banyak orang untuk datang berbelanja. Tak terkecuali Roro Sudarmi, perawan cantik putri Panji Harjo Dipuro di Semanu. Bersama emban pengasuhnya, Roro Sudarmi datang untuk melihat dan berbelanja ke pasar baru.

Saat itulah ketemu dengan Ronggo Puspo Wilogo bersama punggawanya yang juga ada di situ. Melihat kecantikan Roro Sudarmi, Ronggo Puspo Wilogo mencoba membujuk untuk dijadikan istri.

“Roro Sudarmi tidak mau dan kemudian melarikan diri ke utara. Singkat cerita Roro Sudarmi bertemu Ki Wono Pawiro dan diselamatkan dari kejaran Ronggo Puspo Wilogo. Roro Sudarmi disembunyikan ke tempat aman,” urai Harjono.

Kepada Wono Pawiro, Roro Sudarmi pada intinya tidak mau jika hendak diperistri Ronggo Puspo Wilogo. Oleh Ki Wono Pawiro kemudian Roro Sudarmi diantarkan pulang ke Semanu. Dalam hal ini Wono Pawiro memberi saran kepada Roro Sudarmi untuk mengadakan sayembara agar bisa menolak halus pinangan Ronggo Puspo Wilogo.

“Sayembara tersebut pada intinya,  pria yang dapat memanah babal madu kucing, tepat terkena tengah-tengah namun babal madu kucing beserta anak panahnya tidak jatuh ke tanah. Itulah calon pria yang akan dipilih Roro Sudarmi untuk menjadi suaminya,” paparnya.

Dan benar saja, malam harinya Ronggo Puspo Wilogo datang kepada Panji Harjo Dipuro untuk meminang Roro Sudarmi menjadi istrinya. Sesuai permintaan putrinya, maka Panji Harjo Dipuro menyatakan untuk menentukan suami Roro Sudarmi hendak digelar sayembara panah babal madu kucing di Alun-Alun Semanu, pada hari Jumat Kliwon dan harus sudah selesai sebelum pukul 11.00 siang.

“Ronggo Puspo Wilogo sanggup bahkan menganggap enteng permintaan tersebut. Maka benarlah di hari Jumat Kliwon di Alun-Alun Semanu di gelar keramaian sayembara panah babal madu kucing,” Harjono melanjutkan cerita.

Peserta sayembara ternyata tak hanya Ronggo Puspo Wilogo, banyak pemuda lain yang ikut mendaftarkan diri. Semua peserta diberikan modal 3 batang anak panah untuk memanah babal yang ada di puncak gawar yang disediakan. Satu demi satu peserta gagal memanah babal madu kucing yang terkenal sangat lunak.  

Sampailah giliran Ronggo Puspo Wilogo memanah babal madu kucing tersebut. Anak panah pertama gagal karena mengenai daun, lalu anak panah kedua juga gagal karena mengenai batang pohon dan anak panah ketiga juga gagal karena melenceng dari babal yang diincar.

“Peserta terakhir adalah Ki Wono Pawiro, dan sekali bidik tepat sasaran. Anak panah menancap di tengah babal madu kucing, baik anak panah maupun babalnya tidak terjatuh ke tanah. Ki Wono Pawiro ditetapkan sebagai pemenang dan berhak memboyong Roro Sudarmi,” paparnya.

Kemenangan Ki Wono Pawiro menyalakan bara dendam kesumat di hati Ronggo Puspo Wilogo. Dengan emosi yang meluap-luap, Ronggo Puspo Wilogo pulang ke Seneng untuk mengumpulkan wadyo bolo guna diajak melabrak Ki Wono Pawiro.

Bregodo Puspo Wilagan dikerahkan untuk maju perang melawan Ki Wono Pawiro yang tinggal di sebelah utara Wonosari.

“Barisan bregodo dengan jumlah ribuan berteriak-teriak sepanjang jalan sambil menantang perang. Warga yang ketakutan pilih menutup pintu rapat-rapat dan tidak menanggapi tantangan itu. Karena dianggap budek (tuli) oleh Ronggo Puspo Wilogo, kelak tempat tersebut bernama Budegan hingga saat ini,” ujar Harjono.

Bregodo berjalan ke barat dan karena jumlahnya banyak dan emplek-emplekan, jadilah nama Ngemplek hingga sekarang. Ke barat sedikit kuda Ronggo Puspo Wilogo kudanya rebah di bawah pohon randu alas yang kemudian jadi namaNgerboh.

“Pagi harinya terjadi peperangan di lurung gede (jalan besar) antara Ronggo Puspo Wilogo melawan Ki Wono Pawiro dan segenap wadyo bolonya,” tambahnya.

Saat peperangan Ki Wono Pawiro terdesak, maka dilarikanlah Roro Sudarmi untuk mencari selamat terlebih dahulu. Di kejar sampai di bawah pohon pakel oleh Ronggo Puspo Wilogo. Mau tidak mau Roro Sudarmi hendak diminta, namun oleh Ki Wono Pawiro diselamatkan. Jadilah kelak tempat tersebut Pakel Jaluk.

Pelarian Wono Pawiro dan Roro Sudarmi terus ke utara. Terus saja di kejar Ronggo Puspo Wilogo hingga gelung rambut Roro Sudarmi terjatuh. Keluh kemudian hari jadilah tempat tersebut bernama Gelung (dari kata gelungan).

“Dalam mengejar itu, kuda Ronggo Puspo Wilogo mogok dan kajar alias tak bisa lari lagi, jadilah nama Kajar di sebelah timur sana. Ronggo Puspo Wilogo mengejar ke utara sampai ke sumber air yang banyak, jadilah nama Kedung,” lanjutnya.

Sementara itu pelarian Ki Wono Pawiro dan Roro Sudarmi sampai ke dalam sebuah gua. Disitulah Roro Sudarmi disembunyikan dan di tolong oleh Demang Grogol. Jadilah gua persembunyian itu saat ini bernama Goa Song Putri di Karang Tengah.

Berhubung Roro Sudarmi sudah aman, maka Ki Wono Pawiro siap melanjutkan perang tanding dengan Ronggo Puspo Wilogo. Berbekal pusaka tombak Kyai Mantub, Ki Wono Pawiro maju menghadapi Ronggo Puspo Wilogo.

Peperangan seru terjadi, satu demi satu pakaian Ronggo Puspo Wilogo dilucuti dengan tombak pusaka Kyai Mantub. Setelah ngligo tanpa busana, Ronggo Puspo Wilogo lemas karena semua kesaktian yang menempel dibadannya lenyap terpukul tombak Kyai Mantub.

Meski begitu, karena kesaktiannya Ronggo Puspo Wilogo tak bisa mati. Di tusuk tombak juga tak mempan, maka oleh Ki Wono Pawiro badan Ronggo Puspo Wilogo disandarkan pohon asem yang kelak bernama asem raden.

“Insiden itu kemudian dilaporkan oleh Adipati Wiro Negoro ke Sri Sultan Hamengkubuwono. Ronggo Puspo Wilogo yang sudah kalah sedianya hendak dibawa menghadap ke keraton,” tutur Harjono.

Namun di tengah perjalanan, Ronggo Puspo Wilogo yang sudah kalah justru berontak. Diam-diam dia mengambil tombak Kyai Mantub untuk memukul pahanya sendiri. Saat itulah Ronggo Puspo Wilogo tewas, karena ternyata paha kanan adalah letak pengapesannya.

“Ontran-ontran Puspo Wilaga selesai, Sri Sultan Hamengkubuwono I kemudian menetapkan tlatah tempat tinggal Wono Pawiro menjadi Piyaman. Di kandung maksud tempat yang sepi namun aman. Wono Pawiro ditetapkan menjadi demang berjuluk Ki Demang Wono Pawiro,” jelasnya.

Apakah kisahnya sudah selesai? Ternyata belum, sebab sarang burung branjangan putih di puncak pohon nangka sebagai pertanda tempat untuk di bangunnya pusat pemerintahan belum ketemu.

Ki Demang Wono Pawiro kemudian bermunajad lagi di bawah pohon nongko doyong, tempat Nyai Gadung Mlati bertahta. Pohon nangka berusia ratusan tahun itu tumbang ke arah barat daya.

“Eloknya di puncak pohon yang tumbang tersebut ada sarang burung branjangan berbulu putih. Disitulah kemudian di bangun pendapa untuk menjadi pusat pemerintahan. Sekarang tempat itu menjadi Pendopo Bangsal Sewoko Projo, Pemkab Gunungkidul,” papar Harjono.

Pembangunan pusat pemerintahan belum rampung, Bupati Pati Ponco Dirjo mengamuk dan menantang perang Sri Sultan Hamengkubuwono I. Oleh Sri Sultan amukan Bupati Ponco Dirjo ditanggapi dengan kepala dingin.

Ponco Dirjo ditaklukkan kemudian ditetapkan sebagai Bupati Gunungkidul pertama dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Wonosari. Itulah sekelumit kisah perjalanan Bagus Damar dalam cerita turun temurun Babad Alas Nongko Doyong sebagai pertanda adeging (berdirinya) kutho Wonosari. Gaib Wisnu Prasetya

INFO BISNIS

1. AHASS 693 WONOSARI HONDA SERVICE 

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari

Telp. (0274) 392266, HP. 087838272255

Melayani : Servis Gratis, Servis Ringan, Servis Berat, Press Porok, Press Body, Penjualan Spare Part Lengkap, Pemesanan Sparepart, Booking Servis dan Layanan Servis Antar Jemput. Dapatkan Kalender Cantik......segera & terbatas!!! Ayo ke Ahass 693....Program guru servis lengkap discount 50% dengan membawa copy kartu guru berlaku mulai tgl 21 November s.d 5 Desember. Bengkel Ahass tunggal tidak buka cabang di Wonosari!!!

2. ESTETHIC SALON & BODY SPA

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari HP.081802711531, WA.081227706969

Melayani : Perawatan Rambut, Perawatan Badan (Free Totok Wajah) Khusus Wanita, Perawatan Wajah (Standar Skincare Tarif Pelajar),Konsultasi Kulit dan Healthy.

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE