• Minggu, 19 November 2017
  • LOGIN
  • Berlangganan Berita Terbaru invite BBM D919C28D/ DAEC06F2/ WA. 081904213283. Infogunungkidul, menerima tulisan/ berita opini dari pembaca sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik, tidak mengandung unsur sentimen SARA dan Provokatif terhadap kelompok tertentu. Kirimkan opini ke email: redaksi@infogunungkidul.com - "HYPNO THERAPY" Mengobati berbagai macam penyakit. Buka praktek hari: Rabu & Sabtu Jam: 08.00-16.00 Alamat praktek: Jl. Kyai Legi Kepek Wonosari Gunungkidul. Konsultasi & Pendaftaran hub. Lucy 08997722517.

Berita Terbaru
Mbah Ponco Sutiyem Kapok Main Film

Mbah Ponco Sutiyem Kapok Main Film

Infogunungkidul, NGAWEN, Kamis Pon- Film Ziarah sabet dua penghargaan di ASEAN International Film Festival and Awards 2017 (AIFFA). Salah satu kunci suksesnya adalah akting pemeran utamanya, Nenek Ponco Sutiyem, asal Padukuhan Batusari, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen.

Film Ziarah sukses membawa pulang 2 penghargaan di ajang AIFFA di Kuching, Serawak, Malaysia untuk 2 kategori yakni Best Screenplay dan Special Jury Award. Malam penganugerahan AIFFA berlangsung Sabtu, 6 Mei di Pullman Hotel, 1A Jalan Mathies, Kuching Serawak, Malaysia.

Nenek dua puluh tujuh (27) cucu itu  dikenal dengan nama Ponco Sutiyem, merujuk nama suaminya, Mbah Ponco Sentono yang kini berusia 102 tahun. Tahun 2015, ketika film dibuat, cucu Mbah Sutiyem, Risdiyanto, sama sekali tak menduga film itu akan tenar dan masuk ke jaringan bioskop komersial. Kini sang cucu mulai khawatir kesehatan fisik dan mental neneknya terganggu akibat popularitas yang mendadak.

Seperti lumrahnya warga Gunungkidul, Mbah Sutiyem hingga saat ini masih memasak, mencuci baju, dan merawat tanaman di ladang meski di usia senja. Mbah Sutiyem tinggal berdua dengan suaminya, Mbah Ponco Sentono. Tepat di samping rumahnya terdapat rumah salah satu dari tujuh anaknya.

Rumahnya sederhana, khas warga Gunung Kidul, bergaya limasan dengan meja dari kayu dan anyaman rotan model babon angrem.

“Sudah ada sekitar tiga puluhan orang yang datang kemari,” kata Mbah Ponco Sutiyem  mengawali ceritanya.

Di usia yang hampir seabad, Ibu  7 anak, 27 cucu, 40 cicit dan 4 canggah itu berkata dengan artikulasi yang jelas. Tanpa diminta, Mbah Ponco Sutiyem menuturkan pengalamannya bermain film. Didampingi suami dan Risdiyanto, perempuan yang menikah di usia 16 tahun itu mengaku sadar dirinya sedang memerankan karakter lain bernama Sri ketika pembuatan film berlangsung dua tahun lalu.

mbah sutiyem bersama suami

Meskipun di kediamannya tak ada televisi dan dia juga tak bisa baca dan tulis, namun dia tak keberatan ketika cucunya, Risdiyanto mempertemukan Mbah Sutiyem dengan BW Purba Negara, sutradaraZiarah.

“Mereka bilang nama saya di film adalah Mbah Sri, ini ceritanya sedang mencari makam suaminya, namanya Pak Pawiro yang meninggal ketika perang melawan Belanda,” kata Mbah Sutiyem menjelaskan lakon yang dibawakan dalam film berdurasi sekitar 90 menit.

Kala itu, Mbah Sutiyem mau menerima permintaan kru film karena ingin menolong mereka yang sedang kesulitan mencari pemeran Mbah Sri.

“Saya mau (berakting dalam film), karena dimintai tolong tentang sejarah penjajahan Jepang dulu. Waktu Jepang datang ke sini itu saya umur 16 tahun, waktu serangan Belanda itu rumah saya berlubang karena ditembak Belanda. Saya bersembunyi di jugangan (lubang galian untuk tempat sampah), anak saya masih berusia sebulan,” tuturnya.

Selama 12 hari, Mbah Sutiyem mengingat, dirinya dilatih untuk memerankan berbagai adegan, seperti memancing, makan, tidur dan sebagainya.

 “Alhamdulillah, setiap diajari kok saya bisa, diminta (adegan) apapun saya juga bisa,” sebut nenek yang gemar mengunyah sirih itu.

Setelah film tuntas dibuat, Mbah Sutiyem berkesempatan melihatnya pada sebuah acara pemutaran film terbatas di Yogyakarta beberapa saat lalu. Mbah Sutiyem gembira, melihat filmnya selesai dikerjakan.

“Saya senang, karena tujuannya (filmnya) sudah terlaksana,” tuturnya.

Meskipun senang, ia kini tak bersedia lagi bila diajak berakting di depan kamera. Dia juga mengaku takut setelah banyak orang asing yang datang ke rumahnya beberapa hari terakhir. Prasangka dan gunjingan tetangga tentang banyaknya harta miliknya setelah menjadi artis membuat simbah khawatir.

“Takut saya. Saya tidak mau lagi (bermain film), kondisi fisik saya sekarang sudah berbeda dengan dahulu,” katanya.

Sementara itu sang cucu, Risdiyanto membenarkan banyaknya tamu selama beberapa hari terakhir. Tamunya tak hanya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta dan sekitarnya, tetapi juga berasal dari Jawa Timur seperti Surabaya.

Mereka rela menempuh jarak sekitar dua jam dari Yogyakarta untuk bertemu sosok penduduk pedukuhan sederhana yang menjelma menjadi artis dengan meraih penghargaan di luar negeri. Sejumlah tawaran siaran langsung atau acara talkshowtelevisi di Jakarta untuk Mbah Sutiyem pun mengalir deras.

Mereka berdatangan mengikuti popularitas Mbah Sutiyem yang menanjak di berbagai media sosial dan media massa. Ketenaran Mbah Sutiyem sudah terasa bahkan di ruang publik sekitar Ngawen. Sejumlah pedagang di Pasar Ngawen mengaku tahu tentang Mbah Sutiyem dari media sosial, meskipun tidak mengetahui letak pasti rumahnya dan belum pernah bertamu. Namun mereka tahu bila Mbah Ponco Sutiyem tinggal tak jauh dari pasar Ngawen.

Penghargaan internasional yang disematkan atas film Ziarah dari ajang Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina danASEAN International Film Festival and Awards 2017 juga turut mengorbitkan nama pemeran utamanya. Semakin banyaknya perhatian dan riuhnya tamu menarik perhatian tetangga dan mengganggu privacy keseharian Mbah Sutiyem

“Nenek saya takut, karena khawatir disangka banyak uang. Setiap tamu yang datang kemari dikira membawa uang, karena tetangga melihat beberapa tamu memberi uang kepada Nenek. Nenek juga disangka dibayar mahal karena bermain film. Ketakutan Nenek sering disampaikan setelah tamunya pulang,” kata Risdiyanto. Neneknya takut, akan muncul orang jahat yang ingin merampok. Sementara sehari-hari neneknya hanya tinggal berdua dengan suaminya.

Ketakutan itu juga membuat Kakek Ponco sering marah jika ada banyak tamu di kediamannya. Kakek Ponco tidak mengizinkan istrinya keluar rumah untuk kepentingan film tersebut. “Waktu acara pemutaran film Ziarah di Yogyakarta itu, Nenek saya ajak diam-diam, karena Kakek marah. Kalau Nenek pada dasarnya sangat senang bermain film. Dia selalu bersemangat. Tapi itu sebelum tenar seperti ini,” katanya.

Risdiyanto mengaku tak menduga film yang dibuat dua tahun lalu akan menjadi film besar, mendapat penghargaan dan masuk jaringan bioskop komersial seperti sekarang. Kala itu, proyek film bertujuan untuk meningkatkan Padukuhan Pager Jurang di sebelah Padukuhan Batusari, mampu menjadi desa wisata. Konsepnya, film akan berkeliling di sejumlah tempat di Pager Jurang dengan naskah yang sudah ada.

“Film itu disyuting menggunakan kamera ala kadarnya, handycam, kamera DSLR atau kamera handphone. Saat itu kami tak menduga film ini akan menjadi populer seperti sekarang. Saya juga tak menduga Nenek akan terkenal,” ujar pria yang kerap disapa Aris itu.

Mbah Sutiyem bermain di film besutan BW Purba Negara karena dikenalkan oleh Risdiyanto.

“Tidak ada audisi, tetapi kru film mencari pemain lokal. Untuk peran Sri ini baru cocok ketika bertemu dengan Nenek saya. Tujuan film bukan untuk komersial, walaupun Nenek mendapat honor yang kemudian digunakan untuk kebutuhan makanan sehari-hari,” tuturnya.

Kini Aris mulai khawatir dengan banyaknya tamu yang mendadak muncul di kediaman neneknya. Sementara Aris tinggal sekitar 3 kilometer dari kediaman neneknya. Dia mulai membatasi kunjungan tamu, menemani nenek dan memastikan kondisi sang nenek sedang tidak capek ketika menemui tamu. Aris juga mengajak serta setidaknya salah satu anak nenek untuk menemui tamu agar menghindari berita yang simpang siur. Aris juga memastikan berbagai pemberian tamu langsung diterima nenek dan kakeknya untuk menghindari kecurigaan dari kerabat. Daru Punjul Santoso

INFO BISNIS

1. AHASS 693 WONOSARI HONDA SERVICE 

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari

Telp. (0274) 392266, HP. 087838272255

Melayani : Servis Gratis, Servis Ringan, Servis Berat, Press Porok, Press Body, Penjualan Spare Part Lengkap, Pemesanan Sparepart, Booking Servis dan Layanan Servis Antar Jemput. Dapatkan Kalender Cantik......segera & terbatas!!! Ayo ke Ahass 693....Program guru servis lengkap discount 50% dengan membawa copy kartu guru berlaku mulai tgl 21 November s.d 5 Desember. Bengkel Ahass tunggal tidak buka cabang di Wonosari!!!

2. ESTETHIC SALON & BODY SPA

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari HP.081802711531, WA.081227706969

Melayani : Perawatan Rambut, Perawatan Badan (Free Totok Wajah) Khusus Wanita, Perawatan Wajah (Standar Skincare Tarif Pelajar),Konsultasi Kulit dan Healthy.

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE