infogunungkidul.com untuk mengingatkan sejarah runtuhnya rezim Orde Baru besutan HM Soeharto, Presiden RI ke-2. Tulisan dikutip dari berbagai sumbe" />
  • Senin, 20 November 2017
  • LOGIN
  • Berlangganan Berita Terbaru invite BBM D919C28D/ DAEC06F2/ WA. 081904213283. Infogunungkidul, menerima tulisan/ berita opini dari pembaca sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik, tidak mengandung unsur sentimen SARA dan Provokatif terhadap kelompok tertentu. Kirimkan opini ke email: redaksi@infogunungkidul.com - "HYPNO THERAPY" Mengobati berbagai macam penyakit. Buka praktek hari: Rabu & Sabtu Jam: 08.00-16.00 Alamat praktek: Jl. Kyai Legi Kepek Wonosari Gunungkidul. Konsultasi & Pendaftaran hub. Lucy 08997722517.

Berita Terbaru
Menolak Lupa Bagian I : Runtuhnya Rezim Penguasa

Menolak Lupa Bagian I : Runtuhnya Rezim Penguasa

Infogunungkidul, WONOSARI, Sabtu KliwonMenolak lupa adalah catatan redaksi infogunungkidul.com untuk mengingatkan sejarah runtuhnya rezim Orde Baru besutan HM Soeharto, Presiden RI ke-2. Tulisan dikutip dari berbagai sumber, baik tulisan media nasional maupun referensi lain.

tahun 1998, suhu politik Bangsa Indonesia memanas, memasuki titik kulminasi. Saat itu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) lebih dari 71 % tak hanya terjadi di Jakarta. Inflasi ratusan persen terjadi di seluruh Indonesia. Kurs rupiah anjlok ke titik mengkhawatirkan. Ekonomi kacau harga kebutuhan hidup nyaris tak terjangkau. Negara gonjang ganjing mengalami kemunduran di semua sektor.

Masyarakat yang separuh berang separuh putus asa tak punya jalan lain kecuali memprotes lewat aksi turun ke jalan. Namun, bak jongos yang hanya berkata iya-iya-saja, represi aparat menyebar mengikuti mengalirnya keputusasaan masyarakat.

Jakarta berubah beringas ketika HM Soeharto memutuskan untuk melawat ke Mesir pada 9/5/98. Mei 98 memang kelam. Sejak tanggal 2, puluhan bentrokan terjadi antara mahasiswa dan aparat di seantero negeri.

Tanggal 4, enam orang meninggal akibat kerusuhan di Medan, Sumatera Utara. Tanggal 7 terjadi Peristiwa Cimanggis dan 52 mahasiswa yang terluka oleh aparat dibawa ke RS Tugu Ibu. Tanggal 8, seorang mahasiswa terbunuh di Yogyakarta, yang kemudian terkenal dengan sebutan Peristiwa Gejayan.  (sumber : Majalah Tempo)

Waktu itu, Presiden Soeharto melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G15 -sebuah kelompok negara yang menyebut diri memfokuskan kerja sama di bidang investasi, perdagangan, dan teknologi.

Pak Harto hadir pada acara itu. Ia membawa serta penasihat ekonominya Widjojo Nitisastro, Menteri Luar Negeri Ali Alatas, dan Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursjid. Mestinya, kalau sesuai schedule yang dijadwalkan ia akan berada di luar negeri sampai tanggal 16 Mei.

Seperti yang selalu dilakukan, Pak Harto merangkum beberapa kunjungan negara ke dalam satu perjalanan demi alasan penghematan anggaran. Selepas dari Kairo, rencananya Pak Harto akan mampir ke Arab Saudi. Tapi perjalanan ke Saudi itu tak pernah terjadi.

Baru tiga hari berbicara di panel-panel internasional, Pak Harto dikabari kerusuhan makin runyam. Empat mahasiswa mati -dan kali ini di ibu kota. Anak buahnya tak mampu menahan diri untuk tidak membedili massa yang bersenjatakan yel-yel pemompa semangat dan odol pasta gigi untuk mengurangi efek panas gas air mata dalam upaya mereka menumbangkan rezimnya yang kokoh bercokol 32 tahun menguasai nusantara.

Hal itu jadi sorotan media-media luar. Tanggal 12 Mei, ketika menemui masyarakat Indonesia di KBRI Kairo, Soeharto sempat menyinggung ramai-ramai di tanah air. Sang Presiden yang tersudut, yang pada tanggal 1 Mei menyatakan baru mau melaksanakan Reformasi pada tahun 2003, mengisyaratkan kemauannya untuk mundur.

“Sebetulnya, kalau masyarakat tidak memberi kepercayaan lagi, tidak apa-apa. Saya sendiri sudah mengataken, jika sudah tidak percaya, ya sudah. Saya tidak akan mempertahankan dengan kekuatan senjata,” kata Soeharto, seperti dikutip Tempo.

Kalimat Pak Harto tersebut seperti mimpi. Dan memang demikian kesaksian Pak Harto tersebut. Kesahihannya sempat abu-abu. Harian Kompas, dari laporan wartawan di Kairo yang mengaku setengah tertidur, menuliskan besar-besar “Soeharto Siap Mundur” meski beberapa hari kemudian diminta koreksi oleh Istana karena Pak Harto merasa tak pernah bilang demikian.

Kondisi tanah air tak semakin membaik. Tanggal 13, kerusuhan berskala besar meledak di Jakarta dan Solo. Sehari setelah itu, massa terus membeludak, memadati jalanan hampir di seluruh daerah di Indonesia, dan mengepung gedung wakil rakyat.

Sialnya, Panglima ABRI waktu itu, Jenderal TNI Wiranto, malah tak ada di ibu kota. Tanggal 14 Mei, Ia menjadi inspektur upacara dalam rangka serah terima tanggung jawab Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di Malang, Jawa Timur.

Prabowo Subianto sebagai Panglima Kostrad saat itu menyarankan agar Wiranto tak usah datang ke ibu kota. Jakarta semakin genting. Pembakaran dan kerusuhan terjadi di berbagai titik. Jenderal Wiranto terbang ke Malang.

Kerusuhan mengganas. Pemerintah Daerah Tangerang mencatat lebih dari 100 orang hangus terbakar. Pemda Bekasi mengumumkan puluhan mayat dievakuasi akibat bentrokan di masyarakat. Pusat Penerangan ABRI menyebut 500 orang tewas. Angka-angka tersebut dipercaya hanya sebagian kecil, karena ricuh-ricuh serupa juga terjadi di Solo dan beberapa daerah lain.

Tanggal 15, HM Soeharto pulang ke tanah air, dan menemukan ia telah sendirian. Orang-orang di kanan kirinya menyingkir dari Cendana. Sialnya, The Smiling General ini diserang diare pula.

Mahasiswa yang 32 tahun sebelumnya mengusung Soeharto ke tampuk kepemimpinan, berbalik menuntutnya turun. Mahasiswa yang dulu melihat Soeharto sebagai penyegar keadaan dan versi upgrade dari Soekarno, kini melihatnya sama saja dan bahkan lebih parah dari pendahulunya.

Tak berapa lama setelahnya, Harmoko, Ketua Umum Golkar sekaligus Ketua MPR, ikut-ikut “berkhianat”. Ia yang terkenal sebagai kepanjangan lidah Orde Baru dan muncul di televisi-televisi hitam putih itu meminta Soeharto “Agar secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri”.

Langkah terakhir Pak Harto untuk membentuk Komite Reformasi gagal. Ia mendapati 45 nama yang disodorkannya menolak untuk ikut serta. Beberapa menteri jajarannya pun satu demi satu pamit mengajukan pengunduran diri dari jabatan.

Tanggal 19, rombongan ulama dan tokoh masyarakat berbondong-bondong menemuinya, memberikan beberapa opsi agar Pak Harto lengser keprabon.

Tanggal 20 Mei, Harmoko, yang beberapa waktu sebelumnya meyakinkan tak ada yang pantas dan mau menggantikan Soeharto, berpaling muka lebih jauh dengan mengatakan Soeharto sebaiknya mengundurkan diri selambat-lambatnya 22 Mei atau MPR akan memilih presiden baru.

Sehari kemudian, tepatnya 21 Mei 1998, saat itu tiba juga. HM Soeharto tampil di TV, dan menerima takdirnya: mundur di tengah gemuruh suara rakyat. redaksi

INFO BISNIS

1. AHASS 693 WONOSARI HONDA SERVICE 

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari

Telp. (0274) 392266, HP. 087838272255

Melayani : Servis Gratis, Servis Ringan, Servis Berat, Press Porok, Press Body, Penjualan Spare Part Lengkap, Pemesanan Sparepart, Booking Servis dan Layanan Servis Antar Jemput. Dapatkan Kalender Cantik......segera & terbatas!!! Ayo ke Ahass 693....Program guru servis lengkap discount 50% dengan membawa copy kartu guru berlaku mulai tgl 21 November s.d 5 Desember. Bengkel Ahass tunggal tidak buka cabang di Wonosari!!!

2. ESTETHIC SALON & BODY SPA

Jln. KH Agus Salim 113 Ledoksari Wonosari HP.081802711531, WA.081227706969

Melayani : Perawatan Rambut, Perawatan Badan (Free Totok Wajah) Khusus Wanita, Perawatan Wajah (Standar Skincare Tarif Pelajar),Konsultasi Kulit dan Healthy.

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE