• Sabtu, 22 September 2018
  • LOGIN
Dipercaya jadi Pamong Desa Malah Momong Bini Warga

Dipercaya jadi Pamong Desa Malah Momong Bini Warga

Infogunungkidul, 

Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

DI kampung, jabatan pamong atau perangkat desa itu cukup bergengsi. Tapi saking bergengsinya, Kaur Cepi, 40, berani “momong” istri tetangganya. Akhir tahun lalu Cepi digerebek sedang berdua-dua dengan istri orang di kecamatan lain. Iskandar suami Nunung, 35, yang memimpin penggerebekan itu. Endingnya tak kunjung kelar, hingga akhirnya beberapa hari lalu Cepi didemo di Balai Desa dan dituntut mundur dari jabatannya.

Pamong desa itu seperti menteri dalam pemerintahan. Jika Kades adalah presidennya, maka pamong adalah anggota kabinet. Dalam tugasnya dia harus mensukseskan apapun yang menjadi program Kepala Desa. Mereka tidak boleh meleng, harus fokus sama tugas masing-masing. Pokoknya, kerja, kerja, kerja…….

Tapi pamong desa Cepi dari Kecamatan Tepus ini memang lain. Dia bukannya meleng, malah milang-miling (baca: mencari-cari) mana warganya yang melek, yang enak digoyang dan perlu. Masih perawan, janda, atau bersuami sekalipun, nggak masalah.

Tapi celaka tiga belas, yang berkenan baginya justru Ny. Nunung yang notabene bini temannya. Sebetulnya di awal Cepi merasa tidak enak juga, tapi kata setan, Ny. Nunung ini sungguh enak. Dia memang merangsang pandang dan menggamit rasa penuh selera.

“Jadi kalau kamu masih rosa-rosa kayak Mbah Marijan pasti sama-sama enak, Bleh!” kata setan memberi pencerahan ala setan.

Nunung memang cantik, seksi, cuma tak bisa melucu kayak Nunung Srimulat. Justru di sini daya tariknya, karena berarti Nunung adalah wanita serius yang berkebutuhan khusus. Kok khusus, bagaimana penjelasannya? Maksudnya, Nunung mungkin siap menerima Cepi di waktu-waktu yang khusus, gitu lho.

Karena dicurigai sudah ada motif, Cepi memang tidak berani ke rumah tetangga di waktu-waktu biasa. Takut ketemu Iskandar kan jadi berabe, bisa ribut. Padahal presiden sudah bilang, sesama anggota kabinet jangan bikin gaduh. Yang penting kerja, kerja, kerja…………

Nah, di kala Iskandar tidak di rumah, baru dia berani main ke rumah. Di sana keduanya ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, dengan perasaan yang mengaru-biru sekaligus deg-degan. Bagaimana nggak deg-degan, jika tahu-tahu Iskandar datang dan terkena OTT kan celaka. Bisa dikandangi langsung di Rutan yang baru. Sedangkan mau praperadilan, jelas Cepi tak punya duit. Maksudnya, tak punya duit beli meterai Rp 6.000,- untuk pemberian surat kuasa.

Tak diketahui jelas, apakah dari koalisi itu sudah berlanjut ke eksekusi di atas ranjang. Yang jelas lama-lama sering hadirnya Cepi itu menjadi rahasia umum dan bahan pergunjingan warga. Hanya mereka diam saja, karena yang nyatroni Nunung adalah seorang kepala urusan di Balai Desa.

Ketika sudah menjadi rahasia umum, akhirnya skandal Nunung ini sampai juga ke telinga suami. Tentu saja marahlah si Iskandar, tapi karena kurang barang bukti dia butuh Operasi Tangkap Tangan. Diam-diam dia ingin menjebaknya.

Akhir tahun 2017 lalu saat Cepi pergi ke Wonosari, eeeeh ndilalah kok si Nunung kemudian menyusul. Ada apa ini ? Dikuntitlah segala gerak gerik Nunung itu oleh Iskandar dan beberapa warga.

Benar juga sore itu Nunung masuk ke dalam rumah yang disitu ada si Cepi. Begitu dia masuk ke rumah, Iskandar bersama warga pun bergerak. Beberapa menit kemudian terjadilah penggerebekan itu. Dengan mata kepala sendiri Iskandar melihat istrinya duduk berdua-dua dengan Cepi, membawakan makanan lagi. Mereka memang sekedar duduk-duduk, tapi jika tanpa ada maksud lain, ngapain juga sampai jauh-jauh ke Kecamatan Wonosari ? Wong di rumah juga ada tempat duduk toh ?

Persoalan ini kemudian berbuntut panjang bahkan memakan waktu sebulan lebih. Iskandar dan warga berdemo di balai desa dan menuntut Cepi lengser dari jabatan Kaur Perencanaan. Sedangkan Cepi menuding kasus ini ditunggangi kepentingan politik orang yang tidak senang dengan dirinya. Maka Cepi bersikukuh pantang mundur dari jabatan pamong.

“Salah saya apa ? Wong cuma pasang Calsiboard kok dituduh selingkuh,” kelitnya.

Tinggallah Ibu Kepala Desa yang puyeng menengahi perkara ini. Ujung-ujungnya Bu Kades hanya sanggup bilang bahwa perkara ini adalah salah paham belaka.

Bagaimana nggak salah paham, wong belum ada nota kesepahaman. 

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE