• Kamis, 15 November 2018
  • LOGIN
Idap Thalasemia, Perut Della Buncit Mirip Wanita Hamil

Idap Thalasemia, Perut Della Buncit Mirip Wanita Hamil

Infogunungkidul, 

TANJUNGSARI, Jumat Pon-Musibah bertubi-tubi menimpa keluarga Timbang Susilo 45 dan Eni Lestari 36, warga Padukuhan Tenggang RT/RW 01/14, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. Della Cornelia 18, anak semata wayangnya mengidap thalasemia akut hingga perutnya membuncit bak perempuan hamil tua.

 

Disaat seperti itu, Timbang sendiri juga tertimpa musibah saraf terjepit hingga tulang belakangnya diangkat dan diganti pen.

“Belum sembuh penyakit saya, mendadak ibu saya yang bernama Sunirah 65, divonis mengidap lemah jantung. Praktis ekonomi keluarga saya lumpuh,” keluh Timbang, Jumat (02/02).

Sebelum sakit, Timbang mampu menghidupi keluarganya sebagai nelayan Pantai Baron. Namun sejak divonis sarafnya terjepit sejak Januari 2017, praktis dirinya sudah tidak bisa bekerja lagi. Akibat penyakit tersebut, tulang belakangnya harus diangkat dan diganti pen platina. Dampaknya hingga saat ini Timbang tidak mampu lagi bekerja keras seperti dahulu.

Padahal disisi lain dia dan istri memiliki tanggung jawab untuk antar jemput Della tambah darah ke RS Sarjito. Dan hal tersebut membutuhkan ongkos transportasi tidak sedikit. Della divonis mengidap thalasemia sejak masih bayi. Praktis gadis tersebut pertumbuhannya juga tidak normal. Tinggi badannya hanya 114 cm dengan berat badan 30-an kilogram. Meski begitu perut Della membuncit bak wanita hamil tua.

“Sebulan 2 kali untuk tambah darah. Walaupun dibiayai BPJS, saya tetap kesulitan biaya transportasi untuk pulang balik. Bahkan ini baru kemarin anaknya kita bawa pulang seusai rawat inap di rumah sakit,” lanjutnya.

Musibah tak kunjung henti manakala Sunirah, ibunda Timbang juga terserang penyakit lemah jantung hingga dirawat di ruang ICU RSUD Wonosari hingga seminggu lebih. Praktis hal ini menguras uang yang tidak sedikit. Eni Lestari selaku istri yang terpaksa harus pontang panting mencari nafkah dengan berdagang di Pantai Sepanjang.

“Karena tak memiliki kios, maka saya dagang di pasiran Pantai Sepanjang dan setiap saat rentan digusur. Hal itu membuat saya sedih, mau mencari nafkah bagaimana lagi orang kecil seperti saya ini ?” kata Eni menyampaikan keluh kesahnya.

Disisi lain, karena berdagang hanya pada hari Sabtu dan Minggu, maka penghasilan yang didapatkan pun tidak menentu dan tidak mencukupi biaya berobat bagi Della, Timbang dan Sunirah.

“Hingga saat ini saya sudah habis-habisan dan belum ada bantuan dari pemerintah. Mungkin dikiranya kita keluarga mampu,” tambahnya.

Timbang dan Eni berharap ada dermawan atau donatur yang sudi mengulurkan bantuan untuk meringankan beban penderitaan yang mereka alami. Minimal ada bantuan sarana transportasi untuk mengantarkan Della berobat dan tambah darah.

Gaib Wisnu Prasetya-ig


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE