• Sabtu, 22 September 2018
  • LOGIN
Sesama Menantu Selingkuh, Minggat Gondol Motor Mertua

Sesama Menantu Selingkuh, Minggat Gondol Motor Mertua

Infogunungkidul, 

Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Di era gombalisasi ini, koalisi ternyata bukan hanya antar partai. Istri model Muryani, 25, bisa juga melakukan. Sebagai menantu Kemis 52, dia justru berbuat nekad dan kabur bersama Pento 30, yang notabene juga menantu si Kemis bakul sayur. Tak tanggung-tanggung, minggatnya Pento-Muryani juga menggondol uang Rp 5 juta plus motor milik Kemis. Tinggallah Kemis dan anak-anaknya yang merana dengan minggatnya 2 menantu bejad ini.

Saat pernikahan dilangsungkan, sering pak penghulu memberikan khotbah nikah, yang isinya sebetulnya tentang pakta integritas suami istri. Banyak yang mematuhi secara konsekuen ketika mengarungi biduk rumahtangga. Tapi ada juga yang baru nikah beberapa bulan sudah ketahuan punya PIL maupun WIL. Paling kurang ajar, ada juga pengantin wanita yang saat resepsi di pelaminan malah nginceng kakak iparnya yang lebih ganteng dibanding suaminya.

Ny. Muryani warga Kecamatan Playen, rupanya perempuan yang berkarakter seperti itu. Setelah menikah dengan Yanto 27, dia sama sekali tidak setia pada suami. Pakta integritas yang diikrarkan saat pernikahan tempo hari sepertinya hanya dianggap angin lalu. Jadi kelakuan Muryani ini sudah mendekati parpol menjelang Pilkada Serentak. Katanya sudah mantep mengusung si A, karena tak ada duitnya langsung ditinggal dan dukung jago yang lain.

Yanto 30, selaku suami memang bukan lelaki bonafid. Penghasilannya tidak ajeg karena dia pekerja serabutan, kadang-kadang dapat pekerjaan, kadang-kadang nganggur. Padahal kerja sama nganggurnya banyakan nganggurnya. Tapi apa mau dikata, dulu keluarganya 58 % mendukung Yanto sebagai mantu yang santun, lugu dan Okeh Ngoceh.

Benar saja, seusai menikah Muryani diboyong tinggal bersama Yanto di rumah orang tuanya, Kemis yang berprofesi pedagang sayur keliling. Muryani menikah dengan Yanto baru beberapa tahun, tetapi selama itu dia tak memperoleh kebahagiaan dalam rumah tangga.

Jika ukurannya sekedar cinta dan kasih sayang, memang over dosis, tanpa minta pun selalu dikasih. Tapi kebahagiaan materi, ini yang susah diwujudkan oleh Yanto. Maklum dia kerjanya serabutan, sehingga tak bisa memanjakan istri. Rumah tetangga sudah pakai kulkas, dia tidak punya. Bahkan saat para ibu-ibu yang lain pakai HP blackberry atau Android, Yanto hanya punya blek borot (kaleng bocor) di rumah.

Bahkan ketika Muryani minta buah mangga ranum yang harganya tak seberapa mahal,Yanto tak mau juga membelikan.

Katanya, ”Besuk nanam sendiri saja, kamu nanti boleh makan sepuasya sayang!” Lah, ini suami cap apa?

Orang istri butuhnya sekarang, siapa tahu sedang ngidam, kok disuruh menunggu paling tidak 5 tahun lamanya. Di kala hidup dalam keterbatasan ekonomi, Muryani sering larak lirik dengan Hartono, suami tetangga yang cukup menjanjikan. Tampang sih biasa-biasa saja, tapi perhatian dan royalnya pada Muryani sungguh luar biasa. Diam-diam Hartono suka mengajaknya jajan, pulangnya nanti diberi oleh-oleh dan sejumlah uang. Padahal selama ini, lelaki itu tak pernah menuntut lebih, kecuali jalan-jalan saja. Padahal lazimnya lelaki, setelah jalan-jalan pasti ngajak tidur-tidur di hotel.

Karena sikap Hartono yang tulus, lama-lama dia jadi terpikat, sehingga diajak hoho hiheh manut saja. Namun yang namanya tetangga dekat, kisah perselingkuhan itu harus terbongkar saat Muryani tertangkap tangan berduaan dengan Hartono dalam kamar mandi. Gegerlah keluarga keduanya. Muryani diusir dari tempat mertuanya lantaran dianggap pelakor dan biang perselingkuhan. Pergilah Muryani pulang ke rumah orang tuanya di lain desa dan diikuti Yanto.

Yanto berharap dengan boyongan itu penyakit selingkuh istrinya bisa terobati. Namun faktanya justru kian menggila. Beberapa minggu lalu tiba-tiba Muryani raib, pergi tanpa pesan. Sebagai suami tentu saja Yanto gelisah, dicari ke sana kemari tak ketemu juga. Dia melapor mertua, hasilnya malah diomeli, dituduh tidak bisa merawat istri. Dia disindir mertua dengan sedikit kata, tapi sengak didengar telinga.

 “Bini itu dikasih duit, bukan hanya dikasih nafkah batin melulu. Memangnya kamu penganut kebatinan?” kata mertua.

Usut punya usut, ternyata minggatnya sang istri tercinta justru dengan kakak ipar yang dihormatinya. Namun ini sudah terlanjur terjadi, sebab Muryani ternyata menganut falsafah sedulur mulur, tonggo eco, tunggal pager seger, sanak enak, mertuo sekeco, kadang mlengkang, ipe singkatan iki yo penak.

Muryani minggat bersama Pento, yang notabene suami Yanti kakak iparnya. Parahnya, Pento minggat bersama Muryani dengan menggondol uang tunai milik mertua sebanyak Rp 5 juta plus sepeda motor yang biasa dibawa keliling dagang sayur Kemis. Tinggallah Kemis dan kedua anaknya Yanti Yanto yang merana ditinggal minggat pasangannya masing-masing.

Benar-benar koalisi paling gila yang bikin pusing kepala.

Gaib Wisnu Prasetya


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE