• Sabtu, 22 September 2018
  • LOGIN
Pak Dewan Diajari Menyimak Ulat dan Kupu

Pak Dewan Diajari Menyimak Ulat dan Kupu

Foto: Slamet Anggota DPRD DIY

 

Infogunungkidul, 

NGLIPAR, Selasa Wage-Slamet TAHUN 1918 adalah anggota DPRD DIY, di masa kecil hidup di dua dunia, karena orangtuanya memiliki kesibukan berbeda. Hal ini membuat Slamet harus menyesuaikan diri. Selaku mandor hutan bapaknya punya usaha sampingan memelihara ulat sutera sedangkan simbok yang melahirkannya ahli pembuat tempe kedelai.

 

Pagiyo sang ayah, selalu sibuk. Pulang dari patroli hutan, dia  selalu menbawa daun besaran ( murbai ) untuk pakan ulat sutera.

 
Begitupun saya, pulang sekolah membantu mencari daun murbai juga rumput untuk pakan sapi,” ujar Slamet (20/03).

Beternak ulat sutera, lanjut Slamet, adalah pengalaman sangat menyenangkan. Memindahkan bibit ulat, memanen kepompong, memintal dan menggulung sutera merupakan kegiatan sangat mengasikkan.


“Coba kamu belajar dari kehidupan ulat sutera ini, supaya hidup kamu berguna bagi masyarakat,” tutur Slamet mengenang pesan bapaknya.

Pagiyo mencoba menunjukkan, bahwa ulat sutera itu kerjanya cuma makan, tidur dan buang kotoran. Pesan Pagiyo tidak lepas dari ajaran yang terselip dalam tembang Jawa, pada gulangen ing kalbu,  aja pijer mangan nendro ( kuasai hati, hidup ini jangan sebatas makan tidur). Pagiyo senantiasa menyemangati Slamet dengan caranya sediri.

“Kamu harus belajar, jangan bodoh seperti bapak. Masuk SMA kamu harus milih jurusan Pasti Alam (Paspal),” pesan tersebut terngiang di telinga Slamet.

Ulat, diceritakan sebagai binatang yang rakus dan menjijikkan. Begitu pula sebagian besar manusia.

“Kita bodoh kalau hidup ini cuma makan, tidur dan buang kotoran seperti ulat,” tegas Pagiyo.

Kepada Slamet dia mengajarkan, tak akan ada yang peduli terhadap orang bodoh. Ulat sutera dia umpamakan sebagai orang bodoh, tetapi di luar itu dia ceriterakan kehebatannya.

 

Pada usia tertentu, ulat sutera berehenti makan. Sebagaimana ulat pada umumnya, dia melakukan kegiatan semacam bertapa. Dalam fase iniulat kemudian berubah menjadi kepompong. Tak lama kemudian, kepompong berubah menjadi kupu-kupu.

“Meta morfose yang cantik dan sempurna,” demikian Slamet menggambarkan .

Kupu-kupu pada umumnya terbang menjelajah alam. Urusannya bukan lagi sekedar makan (menghisap sari bunga), tetapi membantu penyerbukan.

“Inilah yang Bapak ingin tunjukkan kepada saya, bahwa hidup harus bermanfaat untuk orang lain,” pungkas Slamet.

Agung Sedayu


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE