• Selasa, 18 September 2018
  • LOGIN
Theklek Neng Krikilan, Simbah Tuwek Penthalitan

Theklek Neng Krikilan, Simbah Tuwek Penthalitan

 

Infogunungkidul, 

Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas, disajikan dengan gaya berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Dikutip dari berbagai sumber. Tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Banyak orang usia 80 tahun belum pikun. Tapi Mintarjo 67, dari Wonosari ini, usia belum kepala 7 sudah parah kepikunannya. Bagaimana tidak? Sudah diberi makan istri, ngakunya belum. Bahkan urusan ranjang pun, sudah dikasih jatah mengaku belum.

Usia sudah tua, tapi masih doyan begituan. Ibarat kelapa, makin tua justru makin kenthel santannya. Seminggu minta dilayani tiga kali. Sang istri, Ny. Atikah, 58, sudah keteteran tapi malah diancam mau dipoligami. Theklek neng krikilan, sudah tuwek kok mau pethakilan. Ya sudah, sekalian saja minta cerai ketimbang makan hati. Sudah peot masih ngurusi paha bukan pahala.

Berpikir itu mengasah otak, sehingga orang yang selalu berpikir cenderung tidak cepat pikun. Tapi berpikirnya apa dulu. Jika berpikirnya untuk menghasilkan karya besar atau bermanfaat, niscaya kepikunan takkan begitu cepat menghampiri. Sebaliknya jika yang dipikirkan soal ekonomi dan kesulitan keuangan, justru cepat tua dan cepat….mati.

Mbah Mintarjo warga kota Wonosari, termasuk kakek yang tidak beruntung. Usia belum sampai kepala tujuh, eh pelupanya luar biasa.Hanya jeda waktu beberapa menit, sudah lupa tentang apa yang barusan dilakukan. Atikah 58, sebagai istriinya harus banyak bersabar, sebab kelakuan suami ini memang sangat menjengkelkan.

Bayangkan, kebanyakan lelaki, ketika usia makin bertambah gairah dan libidonya akan menurun secara pelan tapi pasti. Bila masih muda “pandangan hidup”, sekali pandang saja sudah hidup.  Setengah tua mulai “pegangan hidup” atau dipegang baru hidup. Tambah tua, meningkat menjadi “tuntunan hidup” dan terakhir tinggalah “perjuangan hidup”. Ibarat kayu bakar habis kehujanan dipaksa untuk memasak pakai keren, ya mblebes (tak mau nyala) terus!

Dan Mbah Mintarjo ini lain. Meski usia sudah kepala enam, kelihatannya masih rosa-rosa macam Mbah Marijan habis nenggak Kuku Bima Ginseng. Asal ditanya orang atau kenalan lama, jawabnya selalu sama,

“Puser ke atas sih lima puluh ke atas, puser ke bawah konsisten tujuh belas tahun!” Yang mendengarnya pun senyum kecut, dalam usia segitu kok masih fokus soal selangkangan.

Tapi Mbah Mintarjo memang luar biasa. Namanya pakai Min saja sudah begitu perkasanya, apa lagi jika pakai Plus, sehingga jadi Plus Tarjo, tentu tambah luar biasa. Dan ini memang bukan sekedar menata kata, tapi sebenarnya juga begitu. Dalam seminggu dia masih mampu membahagiakan istri sebanyak 3 kali sesendok makan bahkan kadang lebih.

Benarkah Ny. Atikah bahagia akan keperkasaan suami? Justru tersiksa sekali dia. Soalnya setelah lama menopause, dia tidak nyaman lagi dalam urusan satu itu. Tapi jika ditolak, Mbah Mintarjo bisa marah dan ngamuk seperti Prabu Baladewa sang Raja Mandura yang lupa minum Captopril padahal punya penyakit bludreg.

Yang bikin Atikah tersiksa lahir batin. Dalam seminggu dia harus melayani suami sampai tiga hingga lima kali. Padahal gaya main Mbah Mintarjo tambah aneh-aneh, kian variatif dan banyak gaya. Dia tak mau lagi yang klasik standar, melainkan harus pakai pencak silat dan kungfu dengan jurus bangau mematuk precil (anak kodok). Tentu saja Ny. Atikah kalang kabut dan kecapekan dibuatnya.

Sebagai istri Atikah sudah berkali-kali menyampaikan nota keberatan dalam urusan satu itu, tapi tak pernah digubris. Bahkan Mbah Mintarjo mengancam istrinya,

“Kalau kamu tak mau sering melayaniku, ya sudah saya mau poligami saja. Biar kamu bisa ngaso.” ancamnya.

Ngawur, soal begituan kok dianggap seperti orang sambatan (gotong royong). Dan ternyata Mbah Mintarjo memang benar-benar serius. Beberapa hari lalu dia menyatakan bahwa siap mendeklarasikan rencananya, poligami dengan janda muda tetangga desa. Atikah sudah mengingatkan, ingat anak dan cuculah, mesti mendekat Sing Gawe Urip, tapi si kakek tua bangka itu tak peduli.

Ny. Atikah lalu membayangkan, betapa sakitnya punya madu. Ketimbang mimpi buruk itu benar-benar terjadi, dia memilih ngalah saja, keluar dari gelanggang rumah tangga alias minta cerai. Maka kemarin dia mendatangi Pengadilan Agama Wonosari, minta perceraiannya segera diproses.

“Usia sudah bau tanah, kok masih ngurusi soal begituan terus,” kata Ny. Atikah di depan petugas.

Makanya Mbah Putri harus maklum, kaum lelaki makin tua justru tambah manthuk-manthuk. 

(Gaib)


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE