• Kamis, 19 Juli 2018
  • LOGIN
TAK ADA CERITA NEGARA BUBAR, HANYA BERGANTI RUPA

TAK ADA CERITA NEGARA BUBAR, HANYA BERGANTI RUPA

Infogunungkidul, 

WONOSARI, JUMAT PAHING–Pernyatan Prabowo Subianto tahun 2030 Indonesia bubar tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Ucapan Prabowo sah menurut undang-undang. Posisi Indonesia, dilihat dari kacamata sejarah, tidak bisa lepas dari negara kerajaan. Tidak bubar, hanya berganti rupa.

Negara Kerajaan seperti Singasari merupakan perubahan dari teritorial sekala Akuwu. Tunggul Ametung dibunuh Ken Arok dengan keris Empu Gandring meruntuhkan tahta sang Akuwu dan menyeretnya ke tataran kerajaan besar yang didirikan Joko Dolog atau Kertanegara.

Dalam konteks demikian teritorial Akuwu Bubar (berganti bentuk) menjadi Kerajaan Singasari komplit dengan dinamika dan dialektikanya.

Perekonomian Singasari, seperti dicatat sejarah, dilirik Kaisar Kubilai Khan. Revolusi fisik atau perang besar melawan Jaya Katwang Raja Kediri mengakibatkan Singasari runtuh, bukan bubar, tetapi berganti rupa menjadi Majapahit.

Raden Wijaya, adalah peletak dasar Majapahit. Di tangan Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada Majapahit mencapai jaman keemasan. Berikutnya, karena efek perebutan tahta, Majapahit pun suram. Bukan bubar, tetapi bergeser ke Demak. Di antara tahun 1518 – 1521, kekuatan politik Majapahit bergeser dari penguasa Hindu ke Islam

Raden Patah, yang diriwayatkan sebagai keturunan Prabu Brawijaya dari perkawinan dengan putri Cina, adalah Sultan sekaligus politisi Islam di Demak. Kerajaan ini berkembang karena dukungan para Wali.

 

Baca juga:

Tetapi Demak pun tak bisa terhindar dari revolusi. Perang perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedo Lepen dengan Sunan Prawoto putra Sultan Trenggono, mengawali runtuhnya Demak. Kerajaan bercorak maritim oleh Sultan Hadiwijoyo digeser manjadi kerajaan agraris ke Pajang. Demak tidak bubar tetapi berganti corak pemerintahan.

Dengan dialektika dan diamika yang khas, Pajang mulai surut, setelah pemerintahan Pangeran Benowo berakir di tahun 1587. Apa Pajang bubar, tidak. Panembahan Senopati (Suto Wijoyo), menarik Pajang di bawah kekuasaan Mataram.

Negara Kerajaan di bawah bendera Mataram Baru malang melintang di Jawa. Sejarah kegigihan Sultan Agung melawan Kumpeni (VOC) menyuguhkan bukti bahwa secara ekonomi pulau Jawa diincar Belanda.

Persengketaan keluarga kraton lagi-lagi menjadi pemicu pecahnya kepentingan. Mataram terbelah pada 13 Februari tahun 1755 yang terkenal dengan Perjanjian Giyanti. Kasultanan untuk wilayah Yogyakarta, dan Kasunanan untuk Surakarta.

Tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Kala itu Keturunan Raja Mataram, Sri Sultan Hamengku Buwono ke 9 menyatakan diri menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kasultanan Yograkarta Bubar? Tidak, tetapi berafiliasi.

Tahun 2030 Indonesia buar? Pikiran Prabowo Subiyanto perlu dipahami dari sisi historis, supaya tidak gaduh.

Memang ada potensi, Indonesia terpecah belah karena perebutan kekuasaan. Itulah yang harus diwaspadai. Jangan sampai terjadi revolusi sosial. (Bambang Wahyu Widayadi)

 


SUPPORTED BY :
INFO GUNUNGKIDUL BISNIS
TANAH DIJUAL


● Tanah pekarangan
Luas tanah : 1002 M2
Luas Bangunan (Rumah ) : 1002 m2
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik.
Harga 1,3 jt/m2

● Tanah Pekarangan
Luas tanah : 94 m2, Lebar 7m X13,5 m
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik
Harga 155 jt

TLP/WA : 0813-2747-5010

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE