• Kamis, 19 Juli 2018
  • LOGIN
Pangan Lokal Patut Memperoleh Perhatian Serius

Pangan Lokal Patut Memperoleh Perhatian Serius

Bonggol piasang dikupas sebagai bahan baku kripik (IG/BW)

 

WONOSARI, RABU PON, infogunungkidul.com -Menyangkut Penyelenggaraan Urusan Pemerintah Daerah, Bupati Gunungkidul Hj. Badingah S.Sos menempatkan bidang pangan dalam urusan wajib pada prioritas ke 10, di bawah bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Penganggaran untuk dua bidang tersebut dinilai tidak seimbang.


Dana yang dikucurkan pun selisih Rp 674.560.300,00. Tahun 2017, bidang pangan hanya dijatah Rp 620.702.500,00, sementara dana untuk bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak mencapai Rp 1.295.262.800,00.

BACA JUGA: Pariwisata Bertaut Erat dengan Kemiskinan, Gunungkidul Harus Berbenah

Badingah, dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2017 tidak menjelaskan alasan pembedaan soal kucuran anggaran. Dia hanya menyebut, bahwa daya serap anggaran bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak 97%, sementara bidang pangan 96%.


Bidang pangan, berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Pangan, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

BACA JUGA:  Sektor Pertanian Penyumbang Terbesar PDRB

Negara, demikian amanat UU 18 tahun 2012, berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi yang cukup, aman, bermutu, bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga ke tingkat perseorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal.


Soal keberagaman pangan lokal, Kabupaten Gunungkidul terlalu kaya dan bervariasi. Menyebut satu jenis, bonggol pisang kepok bisa diolah menjadi kripik goreng yang diburu para penggila kuliner.


Awal tahun 2017, VC Paku Sadewo, dari Padukuhan Klegung, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, mengembangkan Kripik Bonggol Pisang (Kribosang).


“Kripik berbahan baku umbi pisang kepok yang telah dipanen ini cukup diminati oleh para penggemar kuliner untuk buah tangan,” ujar Sutarto (18/04).

BACA JUGA: Kelompok Plamboyan Olah Kulit Pisang Jadi Kerupuk

Seiring berkembangnya dunia pariwisata, masyarakat rajin mencari terobosan, mengolah kuliner (penganan) khas Gunungkidul.


Wareng (walang goreng), menyusul Kribosang, Kripik Kimpul dan yang lain merupakan elemen ketahanan pangan yang patut memperoleh perhatian serius.


Redaksi


SUPPORTED BY :
INFO GUNUNGKIDUL BISNIS
TANAH DIJUAL


● Tanah pekarangan
Luas tanah : 1002 M2
Luas Bangunan (Rumah ) : 1002 m2
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik.
Harga 1,3 jt/m2

● Tanah Pekarangan
Luas tanah : 94 m2, Lebar 7m X13,5 m
Lokasi : Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan Bantul (masuk dari Jl. Jogja wonosari 30 m, lebar depan 34 m, mobil/ truk masuk, dari Balai Desa Srimulyo 100 m)
Sertifikat Hak Milik
Harga 155 jt

TLP/WA : 0813-2747-5010

BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE