• Sabtu, 22 September 2018
  • LOGIN
NEGARA MAKIN TERANCAM, MASIH BANYAK YANG TERSENYUM SIMPUL

NEGARA MAKIN TERANCAM, MASIH BANYAK YANG TERSENYUM SIMPUL

WONOSARI-Sabtu Wage-infogunungkidul.com-Kejadian hari ini tidak lepas peristiwa hari kemarin. Dalam kontek kenegaraan, peristiwa politik yang sedang berjalan, erat hubungannya sejarah masa silam. Meminjam pernyataan Profesor Saim Said, penafsiran sejarah menjadi penting untuk memahami peristiwa yang sedang berlangsung di depan mata.

Pemerintah kolonial, baik Belanda, Inggris, atau Portugis, dalam mengangkangi daerah jajahan selalu menggunakan teknik yang kurang lebih sama: menanam boneka serta menjual minuman terlarang.

Mereka menciptakan boneka di negeri jajahan, yang mudah ditipu, diiming-imingi hadiah, dan dicekoki jampi-jampi berupa tuak serta arak. Tujuannya, boneka tersebut supaya patuh dalam menghamba kepada yang dipertuan.

Belanda, mempraktekkan hal itu, baik dalam menghadapi era pemerintahan kerajaan maupun republik. Musuh utama kaum kolonial, meski itu benar bagi rakyat terjajah adalah elit kerajaan pembangkang atau tokoh pergerakan.

Pangeran Diponegoro, Soekarno, Mohmad Hata, dan lain-lain, di mata Belanda adalah Pembrontak. Di balik itu, Belanda memiliki antek-antek yang secara historis menikmati hak-hak istimewa di bidang politik juga ekonomi.

Pemegang hak istimewa yang dimaksud, menggunakan istilah yang sering digunakan para pakar, disebut sebagai pemburu rente. Para pencari rente adalah sebagian besar pengusaha yang hidupnya amat bergantung kepada politisi yang sedang berkuasa.

Kekuatan Asing, secara fisik tidak hadir di negeri jajahan. Oleh sebab itu, kolonialisme baru tidak bisa memerangi terang-terangan terhadap kekuatan politik yang defakto dejure sedang berkuasa. Mereka (kekutan asing) selalu nabok nyilih tangan lewat para pemburu rente.

Bantuan yang berjumlah trilyunan dolar Amerika digelontorkan untuk membiayai proyek pembangunan negeri terjajah. Pemburu rente menggerogoti melalui tender yang dilengkapi senjata super menggiurkan dalam bentuk pemberian suap.

Memahami korupsi, mengapa di Indonesia semakin merajalela, karena banyak terjadi transaksi antara penguasa politik dengan para pemburu rente. Bahwa para penguasa politik yang ditangkap KPK, mengenakan rompi oranye, tepap saja tersenyum simpul sembari melambaikan tangan, itu ekspresi kegembiraan yang patut dibedah secara kejiwaan.

Itu benang merah dengan sejarah penjajahan yang pertama. Yang kedua, maraknya perdagangan obat terlarang tidak jauh berbeda dengan perang candu yang pernah terjadi di Cina. Otak Generasi dilumpuhkan melalui cara super halus namun keji. Ini merupakan teknik tepuk lalat, sekali embat, generasi hancur, Polisi jatuh merek, karena terlihat kedodoran dalam menanggulangi narkoba.

Laju pemerintah Indonesia yang saat ini dipimpin Presiden Jokowi, sedang dihambat dengan gaya lama yang diperbaharui. Peristiwa yang terjadi di depan mata hari ini tidak bisa diterjemahkan secara parsial. Korupsi, narkoba, terorisme merupakan satu kesatuan tidak terpisahkan untuk meluluhlantakkan bumi pertiwi.

Bambang Wahyu Widayadi

MASTER FEDORA: Pesta Sambel Bawang, Rapat, Reuni, Pesta Pernikahan, Pesta Ulang Tahun, ArisanJl. Wonosari-Panggang KM 24, Jetis Saptosari Gunungkidul. HP. 087780043215


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE