• Selasa, 20 November 2018
  • LOGIN
AIR PUN PUNYA HAK MEMBELA DIRI

AIR PUN PUNYA HAK MEMBELA DIRI

Infogunungkidul, WONOSARI, Sabtu Legi, - Dalam dunia sastra dikenal gaya bahasa personifikasi. Maksudnya, alam dipersonalkan, dianggap bisa berbicara, atau berbuat sesuatu sebagaimana manusia. Di tengah kegelisahan ribuan umat manusia, air membela diri. Hal tersebut sah, karena dia memang berhak untuk itu.

Rinduku pada laut adalah kangen badai cempaka. Panas mentari mengangkat lembut sutera putihku ke angkasa. Tidak satupun menentang titah. Kami semua setia, kami semua menghamba.

Rinduku pada laut adalah sehangat badai dahlia. Selaksa gunung menyediakan tangga mendukung segenap kehendak, dan aku memanjat langit.

Rinduku mengeras. Rinduku adalah renjana. Seperti kapas kami berteduh di bawah tenda bernama langit. Sedingin salju cintaku kepada laut.

Setingi bangau terbang, sepatuh bumi menumbuhkan rumput cintaku menetes. Pada lereng dan kerendahan aku mencium aroma laut biru.

Pada paruh perjalanan orang-orang berteriak lantang. Aku dimaki, aku dicaci. Subhanalloh, jalan kembali ke laut lepas tidak selapang terbang menuju langit.

Maafkan sobat. Aku diperintah mengalirkan takdir, bukan banjirAku berjalan di atas  persahabatan abadi. Seperti langit dan bumi, seperti sukma sebelum kereta tak berkuda datang meminang.

Aku tidak pernah melakukan sesuatu, kecuali yang diperintahkan. Rinduku pada laut bukan kegelisahan yang engkau rasakan. Aku berjalan merendah, mencari kerendahatian.

Penulis: Bambang Wahyu Widayadi


BACA JUGA
  1. Isi komentar di luar tanggung jawab infogunungkidul.com
  2. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE